OLAH raga berlari menjadi pilihan banyak orang untuk menjaga tubuh tetap bugar karena bisa dilakukan di sekitar rumah, taman, atau jalan. Namun, olah raga berlari tidak semudah kelihatannya. Beranggapan jika ingin berolahraga lari tinggal memakai sepatu olahraga dan bisa langsung melesat di jalan bisa membahayakan kesehatan, apalagi tidak memahami teknik yang benar.
Lari adalah pergerakan mekanis yang yang menuntut teknik yang baik, untuk kecepatan maupun efisiensi guna mengurangi risiko cedera. Mantan Direktur Pelatihan Atletis di Univesitas Santa Clara, Amerika Serikat, Jeremy Golden merekomendasikan untuk memulainya secara perlahan. "Anda merangkak sebelum bisa berjalan, berjalan sebelum mulai berlari. Anda pasti tak mau melakukannya langsung berat karena akan berisiko cedera," ujarnya dilansir dari USA Today.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Golden menyarankan berlatih mekanisme berlari dan membangun kekuatan dasar untuk memastikan tubuh bisa menyesuaikan dengan hentakan yang terjadi saat berlari. Pelatih lari di Nike, Jes Woods, juga menyarankan pelari untuk menegakkan tubuh dan menjaga bahu dan tangan tetap rileks lalu saat kaki mendarat agar posisinya sejajar pinggul untuk membantu kaki mendarat tepat di posisi tengah.
Ketika pelari semakin mendalami olahraganya, akan semakin banyak informasi yang didapat. Untuk membantu tidak ada kesalahpahaman tentang olahraga lari, dilansir dari CNA Lifestyle, berikut penjelasan tentang mitos olahraga lari dari terapis fisik, pelatih, dan pakar lari lainnya.
1. Pelari jarak jauh tidak perlu angkat beban
Banyak pelari percaya bahwa berlari lebih jauh menjadi cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan. Direktur klinis di Finish Line Physical Therapy di New York, Alison McGinnis, mengatakan semua pelari harus berlatih kekuatan juga untuk berlari lebih cepat dan lebih tahan terhadap cedera dalam jangka panjang. McGinnis menjelaskan bahwa kekuatan otot dan kesehatan tendon sangat penting untuk pencegahan cedera dan ketika berlari terlalu banyak tanpa membangun kekuatan, nantinya bisa memicu ada yang rusak.
2. Tidak perlu makan setelah berlari
Setelah berlari, umumnya nafsu makan berkurang karena menurut beberapa penelitian olahraga lari yang berat menurunkan produksi ghrelin, hormon pemicu rasa lapar, dalam tubuh dan menyebabkan lonjakan metabolit yang menekan nafsu makan. Ahli fare terdaftar di Minneapolis yang berspesialisasi dalam menangani pelari, Kristy Baumann menyebut perasaan sementara tersebut bisa menyesatkan karena tidak nafsu makan, bukan berarti tubuh tidak membutuhkan makanan.
“Kita sering mendengar, 'Oh, dengarkan tubuhmu' dan 'Makanlah saat lapar', namun, sebaiknya makan atau mengemil setelah lari untuk mengisi ulang tenaga, jika tidak, dapat memperlambat pemulihan” ujar Baumann.
3. Asam Laktat menyebabkan nyeri otot
Beberapa dekade lalu, gagasan bahwa asam laktat menyebabkan nyeri otot masih tersebar luas dalam budaya olahraga. Asisten profesor ilmu kesehatan di Furman University di Carolina Selatan, Scott Murr mengatakan baru-baru ini ia bertanya kepada lebih dari 20 mahasiswa atlet apakah asam laktat menyebabkan nyeri otot dan semua mahasiswa menjawab ya.
Murr menjelaskan bahwa laktat, sumber energi yang diproduksi tubuh saat memecah glukosa, seringkali "berperan,". Selama olahraga intens, jelasnya, produksi laktat disertai dengan peningkatan ion hidrogen, yang dapat menyebabkan sensasi "terbakar" sementara. Namun, nyeri pasca-olahraga tidak berkaitan dengan stres metabolik tersebut, melainkan oleh kerusakan mikroskopis yang terjadi ketika memberikan beban yang luar biasa berat pada otot.
4. Gel energi selalu keras di perut
Beberapa atlet mengeluh bahwa produk gel energi menyebabkan gangguan gastrointestinal. Namun, Ahli diet, Baumann menyebut gel itu sendiri belum tentu menjadi masalah. Baumann menjelaskan terkadang, pelari mengonsumsinya saat sudah dehidrasi dan itu dapat memperparah masalah perut karena tubuh perlu waktu untuk beradaptasi dalam mencerna gel tersebut.
"Perut anda adalah otot, ia bisa dilatih ," kata Baumann. Lebih lanjut, Baumann merekomendasikan untuk memulai dengan sedikit karbohidrat saat lari jarak jauh, lalu setengah gel energi dengan aerial setiap 40 menit dan meningkatkannya hingga satu gel setiap 30 menit yang dipadukan dengan minuman olahraga. Perkembangan bertahap tersebut, ujar Baumann, melatih sistem pencernaan untuk menyerap bahan bakar lebih efisien, yang dapat membantu tubuh tampil lebih baik.
5. Istirahat cara terbaik menyebuhkan cedera
Profesor ilmu olahraga di Universitas Brigham Young, Iain Hunter menyebut kalimat "Kamu perlu istirahat sampai kondisi ini membaik." berlaku untuk beberapa cedera parah, seperti fraktur stres. Namun, dalam beberapa kasus, seperti cedera ligamen dan tendon, istirahat full justru dapat merugikan.
Untuk cedera tersebut, "kita membutuhkan aliran darah untuk menyembuhkan tubuh," kata Dr. Hunter. Menghentikan semua gerakan, ujar Hunter, dapat memperlambat proses pemulihan ketika mengalami cedera.
6. Pelari sejati berlari setiap hari
Pelatih lari dan salah satu pendiri Brooklyn Track Club, Steve Finley menyebut banyak pelari harus melupakan gagasan bahwa komitmen sejati terhadap olahraga berarti berlari setiap hari. Finley mengatakan bahwa ia mengenal atlet Olimpiade lintasan dan lapangan yang hanya berlari sejauh 40 hingga 50 mil seminggu, sementara beberapa teman amatirnya menempuh jarak yang jauh lebih jauh.
Pelatih lari dengan pengalaman 25 tahun yang bekerja dengan pelari dari semua tingkat, Dena Evans, mengatakan bahwa dia memiliki banyak klien yang percaya bahwa mendorong batas fisik mereka setiap hari adalah cara terbaik untuk berkembang. "Anda mungkin menjalani sisa hidup Anda dengan cara itu, dan Anda mungkin mendapatkan hasil yang Anda inginkan," kata Evans.
Namun, Evans menegaskan bahwa para pelari harus mengingat aturan utama olah raga ketahanan membutuhkan kombinasi hari-hari yang berat dan ringan agar tubuh dapat beradaptasi dan, pada akhirnya, berkembang.