TIM peneliti dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (DCT) Abu Dhabi menemukan sebuah salib berbahan plester—semen kuno dari campuran kapur—berusia 1.400 tahun di Pulau Sir Bani Yas, Uni Emirat Arab. Maria Gajewska, seorang arkeolog DCT mengatakan temuan itu ada di antara puing bangunan, yang ternyata bagian dari sebuah biara.
“Kami telah membuktikan rumah-rumah ini adalah bagian dari permukiman kristen,” katanya, dikutip Live Science pada Sabtu, 23 Agustus 2025.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Biara kristen ini pertama kali ditemukan pada 1992 oeh survei tim arkeologi. Beberapa penggalian lanjutan di sana juga mengungkap keberadaan gereja dan kompleks biara. Namun, kedua bangunan ini ditafsirkan sebagai ruang terpisah.
Bangunan-bangunan di atas Pulau Sir Bani Yas, seluas 110 mil atau 170 kilometer persegi, diperkirakan berdiri sejak abad ke-7 atau ke-8 masehi. Pada tahun ini, arkeolog kembali lagi menelusuri halaman sebuah reruntuhan rumah. Mereka menemukan plester berbentuk cetakan salib sepanjang 30 sentimeter.
Dalam beberapa ulasan, pulau ini hanya salah satu lokasi ibadah umat Kristen. Agama itu menyebar di sekitar Teluk Arab pada periode antara abad ke-4 dan ke-6, sebelum Islam menyebar pada abad ke-7. Setelah diteliti, penduduk beragama Islam dan Kristen di pulau itu diketahui hidup berdampingan, sampai akhirnya biara itu ditinggalkan pada abad ke-8. Meski begitu, belum ada bukti spesifik bahwa rumah-rumah itu dihuni oleh satu komunitas agama.
Ketua Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (DCT) Abu Dhabi Mohamed Khalifa Al Mubarak mengatakan penemuan salib ini merupakan bukti kuat dari nilai-nilai keterbukaan budaya di Uni Emirat Arab. Penemuan ini akan dilestarikan sekaligus dipromosikan kepada seluruh dunia.
“Penemuan ini memperdalam hubungan kami dengan masa lalu,” ucap Khalifa melalui situs resmi pada Selasa, 19 Agustus 2025. Hasil penelitian itu juga diharapkan menginspirasi generasi mendatang untuk merangkul semangat persatuan.
Sebagai bagian dari restorasi pada 2019, gereja dan biara sekarang dilindungi dan telah dibuka kembali untuk umum. Kompleks ibadah itu juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti papan nama dan penunjuk arah. Ada juga pameran kecil berisi artefak penggalian yang berisi piala kaca, plester salib, dan segel perangko bermotif kalajengking.