Jadi intinya...
- Campak dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian, bukan hanya gejala ringan.
- Peningkatan kasus campak dipicu rendahnya cakupan imunisasi dan faktor lingkungan.
- Komplikasi seperti pneumonia, diare, dan ensefalitis menjadi penyebab utama kematian.
Liputan6.com, Jakarta Kasus campak meningkat di beberapa daerah. Tak sekadar demam dan ruam merah, ternyata campak juga bisa menyebabkan komplikasi yang mematikan.
Praktisi kesehatan yang juga dokter di RSUD Tamansari Jakbar, Ngabila Salama, mengatakan umumnya wabah campak dampak dari cakupan imunisasi di suatu wilayah tidak tinggi, merata, bermutu.
"Tidak vaksin campak sama sekali, tidak vaksin campak lengkap saat bayi, balita, SD, gizi kurang atau buruk, lingkungan sanitasi rumah tidak bersih, ventilasi udara dan cahaya buruk," katanya saat berbincang dengan Liputan6.com, Rabu (27/8/2025).
Dalam 8 bulan terakhir tercatat ada 275 anak yang terpapar microorganism campak di Bangkalan, Jawa Timur. Sementara sebanyak lebih dari 2.000 kasus campak terjadi di Kabupaten Sumenep, terdapat 17 orang di antaranya meninggal dunia.
Pneumonia hingga Diare Berat
Jika seorang anak menderita campak tetapi tidak segera ditangani, bisa menyebabkan kondisi yang lebih serius seperti komplikasi. Bahkan, lebih bahaya dari itu, juga bisa menyebabkan kematian.
"Anak bisa meninggal karena campak bukan hanya karena virusnya saja, tapi terutama karena komplikasi yang muncul," katanya.
Ada pun penyakit komplikasi yang berpotensi muncul dampak dari kemunculan campak seperti Pneumonia. Pada kasus ini, penyebab utama kematian pada anak penderita campak, baik karena microorganism campak itu sendiri atau infeksi bakteri sekunder.
Tak hanya itu, campak yang tidak segera diobati juga bisa menyebabkan anak tersebut diare berat dan dehidrasi.
"Anak dengan gizi kurang lebih cepat jatuh ke kondisi syok akibat dehidrasi," ujarnya.
Peradangan Otak hingga Malnutrisi
Pada kondisi lainnya, campak juga bisa menyebabkan kondisi ensefalitis. Di mana terjadi peradangan otak yang muncul mendadak, hingga menimbulkan kejang, koma, bahkan kematian.
Dampak campak lainnya yakni membuat penderitanya mengalami malnutrisi akut.
"Campak memperparah gizi buruk karena menurunnya nafsu makan, gangguan penyerapan, dan peningkatan kebutuhan metabolik," ujarnya.
46 Daerah KLB Campak
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan, sebanyak 46 wilayah di Indonesia mengalami kejadian luar biasa (KLB) campak. Kejadian ini dipicu cakupan imunisasi campak yang tidak merata dan optimal.
Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Prima Yosephine mengatakan, dalam tiga tahun terakhir cakupan imunisasi campak menurun.
Berikut daftar wilayah yang mengalami KLB campak di Indonesia:
Pulau Jawa
DKI Jakarta
1. Jakarta Barat
2. Jakarta Utara
Jawa Barat
1. Garut
2. Cirebon
Jawa Tengah
1. Banyumas
2. Kota Surakarta
Banten
1. Serang
2. Kota Tangsel
3. Kota Tangerang
4. Kota Tangerang
5. Tangerang
Jawa Timur
1. Sumenep
2. Pamekasan
3. Sampang
4. Bangkalan
5. Kota Surabaya
6. Jember
7. Sidoarjo
8. Lumajang
9. Probolinggo
DI Yogyakarta
1. Sleman
Bali dan Sumatera
Bali
1. Karangasem
Sumatera Utara
1. Kota Medan
2. Deli serdang
3. Tapanuli Selatan
4. Kota Tebing Tinggi
5. Padang Lawas
6. Dairi
7. Samosir
8. Tapanuli Tengah
9. Mandailing Natal
10. Kota Pematang Siantar
11. Padang Lawas Utara
Sumatera Barat
1. Agam
2. Agam
3. Agam
4. Sijunjung
Gorontalo, Kalimantan, dan Sulawesi
Gorontalo
1. Boalemo
2. Pahuwato
3. Kota Gorontalo
Kalimantan Timur
1. Kota Balikpapan
2. Kota Bontang
Kalimantan Utara
1. Nunukan
2. Nunukan
Sulawesi Tengah
1. Tojo Una Una
Sulawesi Selatan
1. Maros