“Beras Mahal Tapi Apek, Enggak Enak, Rasanya Seperti Tertipu...”

3 days ago 1

JAKARTA, KOMPAS.com – Sejumlah ibu rumah tangga mengaku kecewa dengan kualitas beras premium yang dijual di pasaran. Meski berlabel merk terkenal dan dijual dengan harga tinggi, nasinya cepat basi dan berbau apek.

“Pernah nasinya cepat basi. Bau apek. Enggak enak. Ini sebenarnya sudah lama sebelum kasus beras oplosan terbongkar,” ujar Tika, salah satu konsumen.

Ia menduga beras yang dibelinya saat itu termasuk oplosan, meski harganya lumayan mahal.

Tika menambahkan, pengalaman itu membuatnya lebih berhati-hati.

“Padahal harganya lumayan dan bermerk. Aku sempat heran, lah kan itu beras bagus. Kok begitu,” katanya.

Baca juga: Harga Beras Mahal, Warga: Kami Ini Cari Murah...

Kekecewaan konsumen mendorong mereka meminta pemerintah memperketat pengawasan perdagangan beras premium.

“Kasus beras premium ternyata bodong sudah cukup membuat kecewa. Karena merasa sudah milih produk yang bagus, tahunya kecele,” ungkap Tika. Ia berharap harga beras premium lebih terjangkau, tapi kualitasnya juga terjamin.

Senada, Wulan menekankan pentingnya sanksi tegas bagi pelaku beras oplosan.

“Kalau sebagai konsumen sih ya inginnya stok ada, kualitas sesuai harga, sehingga ada pengawasan ketat terkait kualitas beras yang beredar di pasaran. Jangan ada oplosan dan pemalsuan beras,” ujarnya.

Wulan juga mendorong pemerintah memperkuat produksi dalam negeri.

“Kalau bisa jangan impor beras terus, tapi dongkrak produksi dan produktivitas dalam negeri. Penerapan teknologi modern pertanian padi harus benar-benar diterapkan supaya produksi tetap besar di luasan lahan yang makin sempit,” jelasnya.

Baca juga: Duduk Perkara Mentan Dihujat usai Bandingkan Mahalnya Harga Beras Jepang dengan RI

Mentan Sebut Harga Beras Mulai Turun

Sebelumnya, menurut information Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga beras mean dan premium kini berangsur turun di 15 provinsi, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali.

“Dua hari lalu (22/8/2025) harga beras turun di 13 provinsi, dan kini meluas ke 15 provinsi. Saya optimistis harga akan semakin stabil dalam beberapa minggu ke depan, seiring penguatan distribusi beras SPHP,” ucap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, di Jakarta, Minggu (25/8/2025), seperti dilansir Antara.

Harga beras ditekan lewat operasi pasar Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digencarkan Perum Bulog bersama TNI, Polri, dan instansi terkait.

Baca juga: BPS Ungkap Harga Beras Medium-Premium di 200 Daerah Melambung, Ada yang Rp 60.000 Per Kg

Mentan Amran juga menyampaikan rasa syukur karena Indonesia tidak mengimpor beras tahun ini. Kondisi itu terjadi ketika banyak negara maju justru kesulitan akibat lonjakan harga beras.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur stok beras dalam negeri sangat cukup, sehingga tahun ini kita tidak impor beras. Hingga Agustus ini stok beras aman dan produksi connected the way terus meningkat," kata Amran

Memperkuat pernyataan Mentan Amran, information dari Food and Agriculture Organization (FAO), United States Department of Agriculture (USDA), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan proyeksi produksi beras nasional terus naik. Dari 30,62 juta ton pada 2024, angka itu diperkirakan mencapai 33,8–35,6 juta ton pada 2025.

Kemudian, cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog juga mencatat rekor tertinggi 57 tahun terakhir, yakni 4,2 juta ton. Tahun lalu stok hanya sekitar 1 juta ton.

Baca juga: Cerita Ibu-ibu Cari Beras: Kehabisan Stok Beras di Ritel, ke Warung tapi Harga Mahal dan Kualitas Mengecewakan

Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!

Read Entire Article









close
Banner iklan disini