JAKARTA, KOMPAS.com – Analis Phillip Sekuritas, Edo Ardiansyah, menilai pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI) dapat menjadi katalis positif bagi kinerja perbankan nasional.
“Penurunan suku bunga biasanya menurunkan biaya dana lebih cepat daripada penyesuaian bunga pinjaman. Artinya borderline bunga bersih atau NIM berpotensi melebar,” kata Edo dalam keterangannya Rabu (27/8/2025).
Sebagai informasi, BI kembali memangkas suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 ground poin (bps) menjadi 5 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2025. Suku bunga Deposit Facility juga ikut turun ke 4,25 persen, sementara Lending Facility berada di level 5,75 persen.
Dengan kebijakan terbaru ini, BI sudah menurunkan BI Rate sebanyak empat kali sepanjang 2025, ditambah satu kali penurunan pada akhir 2024. Secara total, suku bunga acuan telah dipangkas 125 bps dari puncaknya di 6,25 persen.
Baca juga: Penurunan Suku Bunga The Fed Bisa Bikin Arus Modal Asing Masuk ke Indonesia
BI menyatakan keputusan ini diambil sejalan dengan proyeksi inflasi yang terkendali dan nilai tukar rupiah yang stabil, sekaligus untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Bank sentral juga membuka peluang adanya ruang penurunan suku bunga berikutnya.
Menurut Edo, penurunan BI Rate akan meningkatkan permintaan kredit pada semester II-2025. Hal ini dapat mendorong ekspansi kredit yang pada akhirnya berdampak pada profitabilitas bank.
Dia menyebutkan, dampak positif penurunan BI complaint akan dirasakan seluruh industri secara merata, baik slope besar hingga slope kecil. "Namun, slope yang sejak awal tahun berhasil menjaga NIM bahkan meningkat akan lebih diuntungkan,” kata dia.
Edo mencontohkan PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS) sebagai contoh slope yang tetap mencatat peningkatan borderline meski berada di epoch suku bunga tinggi.
“BWS bisa jadi contoh slope yang relatif tahan banting. Mereka sudah berhasil menjaga borderline saat bunga tinggi, sehingga saat bunga turun, peluang memperluas NIM akan lebih lebar lagi,” ujar Edo.
Data semester I-2025 menunjukkan pendapatan bunga bersih eminten berkode SDRA ini naik 4,14 persen menjadi Rp 871,02 miliar, sementara NIM meningkat ke 3,29 persen. Kenaikan ini terjadi meski biaya dana industri perbankan secara umum masih tinggi.
Selain SDRA, Edo menilai bank-bank besar seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI(, dan Bank Central Asia (BBCA) juga akan mendapat keuntungan dari tren penurunan suku bunga BI.
“BBRI punya NIM paling tebal, sehingga setiap ground poin penurunan bunga langsung terasa di margin. BMRI dan BBCA lebih konservatif, tetapi tetap mendapat keuntungan lewat turunnya outgo of fund. Sementara slope seperti BWS, yang ground pendanaannya relatif murah dari induk, bisa menjadi pemenang di segmen tertentu,” jelas Edo.
Dengan biaya pendanaan yang lebih rendah, perbankan diproyeksikan lebih berani menyalurkan kredit pada paruh kedua 2025. Meski begitu, Edo mengingatkan agar ekspansi tetap dibarengi dengan disiplin manajemen risiko.
“Tren ini positif untuk industri perbankan. Namun disiplin risk management tetap diperlukan agar NPL tidak meningkat di tengah ekspansi,” sebut dia.
Baca juga: OJK Minta Bank Turunkan Suku Bunga Kredit secara Bertahap
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!