BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mencatat enam kali aktivitas gempa dari Sesar Lembang sejak 25 Juli hingga 20 Agustus 2025. Sesar sepanjang 29 kilometer itu dibagi menjadi enam segmen, tapi keenam gempa terpantau dipicu hanya dari dua segmen sepanjang 10 kilometer: Cimeta dan Cipogor.
"Sedangkan segmen lainnya relatif tenang,” kata Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu lewat keterangan tertulis pad Kamis, 28 Agustus 2025.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sebanyak enam bagian Sesar Lembang itu, dari barat ke timur, dinamakan segmen Cimeta, Cipogor, Cihideung, Gunung Batu, Cikapundung, dan Batu Lonceng. Wilayah yang dilintasi garis patahannya melewati wilayah Kabupaten Bandung Barat yaitu Ngamprah, Cisarua, Parongpong, dan Lembang. Kemudian Cimenyan dan Cilengkrang di Kabupaten Bandung, serta berakhir di daerah Tanjungsari di Kabupaten Sumedang.
Segmen yang aktif, yaitu Cimeta dan Cipogor, menghasilkan gempa berkekuatan Magnitudo 1,7 sampai 2,3. Intensitas guncangannya terbesar pada skala II-III MMI, atau getaran gempa hanya dirasakan oleh beberapa orang dan membuat benda-benda ringan yang digantung bergoyang hingga terasa di dalam rumah seakan ada truk yang melintas.
"Kejadian gempa terbanyak pada bulan ini mulai 14 Agustus 2025 (M1,9), kemudian 15 Agustus (M1,8), 19 Agustus (M2,3), lalu 20 Agustus (M1,7)," kata Teguh Rahayu lagi.
Pemantauan aktivitas Sesar Lembang, Rahayu menerangkan, melalui jaringan sensor INATEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) dan Lembang Framework. Selain itu, BMKG juga membuat skenario gempa dan menghitung kekuatan lindunya. Dari pemantauan dan skenario itu, Rahayu menambahkan, "Dua segmen yang aktif itu dapat menghasilkan gempa bumi dengan potensi Magnitudo maksimum 5,5.”
Menurut BMKG, guncangan dari gempa dengan magnitudo yang maksimum itu berpotensi menyebabkan wilayah Kabupaten Bandung Barat mengalami dampak guncangan antara V–VI MMI. Pada skala itu, Rahayu berujar, "Kebanyakan semua (orang) terkejut dan lari ke luar, plester dinding jatuh, dan cerobong asap pada pabrik rusak.”
Menghadapi potensi bencana gempa dari Sesar Lembang tersebut, BMKG menyatakan, langkah siap siaga yang bisa dilakukan adalah dengan memastikan bangunan aman, tahan gempa dengan struktur yang kuat memakai besi tulangan, serta mengacu building code atau aturan bangunan tahan gempa atau ramah gempa.
"Kemudian menyiapkan rambu jalur evakuasi dari lingkup keluarga, lingkungan RT RW, dan di country publik."
Upaya lainnya seperti melakukan pengukuran mikrozonasi untuk memetakan potensi tingkat guncangan gempa di wilayah Bandung Barat dan menyiapkan diri dengan latihan cara melindungi diri selama terjadi gempa. Caranya seperti dengan menjatuhkan tangan dan lutut ke tanah atau lantai, melindungi kepala dan leher di bawah perabotan yang kokoh, berpegangan erat pada tempat berlindung, menyediakan peralatan untuk selamat atau tas siaga bencana.