PERUSAHAAN pesawat asal Amerika Serikat, The Boeing Company memproyeksikan maskapai di Indonesia membutuhkan penambahan armada hingga 600 portion pesawat baru untuk mendukung pertumbuhan industri penerbangan dalam dua dekade mendatang. Proyeksi ini berdasarkan perbandingan kapasitas kursi keberangkatan per kapita di Indonesia.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Managing Director Regional Marketing Boeing Commercial Airplanes, Dave Schulte menyebut Indonesia hanya memiliki 0,4 kursi per kapita atau lebih rendah dari rata-rata negara di Asia Tenggara yang mempunyai 0,65 kursi per kapita. “Kalau ingin meningkatkan dalam hal kursi per kapita di Indonesia untuk setara dengan rata-rata Asia Tenggara, akan memerlukan sekitar 600 pesawat baru untuk masuk ke Indonesia,” kata Dave saat konferensi pers di Menara Astra, Jakarta Pusat, Rabu, pada Rabu, 27 Agustus 2025.
Selain memproyeksikan penambahan armada untuk maskapai penerbangan di Indonesia, Dave turut menyinggung perhitungan Boeing terhadap permintaan pesawat di kawasan Asia Tenggara. Menurut dia, maskapai di Asia Tenggara membutuhkan 4.885 portion pesawat baru dalam 20 tahun ke depan untuk mendukung tren pertumbuhan tahunan pada industri penerbangan sebanyak 7 persen.
Dari full permintaan itu, Dave menyebut hampir 80 persennya berasal dari kategori pesawat lorong tunggal seperti Boeing 737. Sedangkan 900 portion lainnya adalah pesawat lorong ganda yang digunakan untuk penerbangan jarak jauh. “Kami memperkirakan untuk pasar Asia Tenggara selama 20 tahun ke depan akan ada pengiriman 4.885 pesawat baru,” ujar Dave.
Pada kesempatan yang sama, Dave membeberkan hingga kini, Boeing memiliki armada aktif sebanyak hampir 30 ribu pesawat di seluruh dunia. Namun, jumlah tersebut masih kurang karena belum mampu memenuhi seluruh permintaan maskapai belakangan ini.
Memasok pesawat saat ini menurutnya menjadi tantangan. Sedangkan di waktu yang sama, terjadi pertumbuhan permintaan pesawat setiap tahunnya. "Hal ini membuat maskapai lebih sulit untuk mendapatkan pesawat baru. Ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan," ujar petinggi Boeing bidang pemasaran untuk wilayah Asia Timur Laut, Asia Tenggara, dan Oseania itu.
Dave merekomendasikan perusahaan penerbangan merencanakan armada dan melihat peluang pertumbuhan bisnis saat memesan pesawat baru. Ia juga menyebut telah menjalin kerja sama dengan maskapai di seluruh dunia, termasuk Garuda Indonesia, untuk mendukung kebutuhan maskapai dan pertumbuhan bisnis mereka.