JAKARTA, KOMPAS.com - BTN mendesak kenaikan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi FLPP menjadi 6 persen-7 persen dari posisi 5 persen saat ini.
Desakan disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, dengan tujuan memperpanjang tenor kredit untuk meringankan cicilan debitur.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan suku bunga saat ini terlalu rendah dan perlu diimbangi dengan penurunan biaya dana dari PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) yang terlalu mahal agar bisa menguntungkan.
Baca juga: BTN Desak Pemerintah Hapus Pungutan dan Biaya yang Bebani Rumah Subsidi
Tak hanya sekali, sebelumnya Nixon juga curhat kepada Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait.
Menurutnya, sebagai entitas yang menunjang pembiayaan sekunder perumahan, SMF mengenakan bunga yang dirasa memberatkan BTN.
Saat BTN mengenakan bunga 5 persen kepada masyarakat penerima subsidi, SMF mengenakan biaya 4,45 persen.
"Ini tidak ada margin, Pak. Ketemu kertas-kertas saja sudah habis biayanya," keluh Nixon.
BTN menginginkan bunga SMF bisa diturunkan, idealnya di angka 2 persen, agar borderline slope lebih sehat dan sejalan dengan semangat subsidi.
Baca juga: Kuota KPR Subsidi Naik Drastis, BTN Siapkan 220.000 Rumah buat Kamu
Menanggapi hal ini, Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo, membeberkan item skema pembiayaan yang selama ini luput dari perhatian publik.
Dia menegaskan bahwa statement "mahal" itu tidak berdasar jika dilihat dari kacamata bisnis.
Ananta menjelaskan bahwa skema pembiayaan perumahan subsidi merupakan hasil dari proses blended finance atau pembiayaan campuran.
Dalam skema ini, dana dari SMF, yang memiliki porsi 25 persen, dicampur dengan dana dari Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang memiliki porsi lebih besar, yaitu 75 persen.
Baca juga: Mengapa BCA Mau Membiayai KPR Rumah Subsidi?
"Dana dari SMF bunganya 4,45 persen, sedangkan dari Tapera bunganya 0,5 persen. Kedua sumber dana ini kemudian di-blended dan masuk ke perbankan dengan bunga rata-rata 1,5 persen," jelas Ananta kepada Kompas.com, Selasa (26/8/2025).
Ini artinya, BTN sebagai slope penyalur menerima dana dengan biaya bunga hanya 1,5 persen.
Padahal, slope menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan bunga 5 persen.