Campak Ternyata Bisa Fatal dan Buat Anak Meninggal, Begini Penjelasan Dokter

2 days ago 1

Liputan6.com, Jakarta- Sebanyak 17 anak di Sumenep, Jawa Timur, dilaporkan meninggal dunia akibat campak dalam kurun waktu Februari hingga Juli 2025. Mayoritas dari mereka belum pernah mendapatkan imunisasi campak.

Praktisi Kesehatan Masyarakat, Ngabila Salama mengungkapkan bahwa campak memang bisa berujung maut, namun bukan semata karena virusnya. Menurut dia, kematian akibat campak umumnya disebabkan oleh komplikasi serius yang menyertai.

"Anak bisa meninggal karena campak bukan hanya karena virusnya saja, tapi terutama karena komplikasi yang muncul seperti pneumonia, diare parah, radang otak (ensefalitis), hingga malnutrisi akut," jelasnya, Rabu (27/8/2025).

Da menambahkan, bayi dan balita adalah kelompok paling rentan karena sistem imun mereka belum sempurna. Ditambah dengan kondisi gizi buruk dan tidak adanya perlindungan imunisasi, risiko fatal menjadi jauh lebih tinggi.

Ngabila juga menyoroti pentingnya deteksi dan penanganan medis yang cepat.

"Terlambat ditangani atau salah penanganan bisa memperparah kondisi. Anak-anak yang tidak divaksin paling berisiko mengalami komplikasi berat," katanya.

Kenapa Anak Kena Campak?

Menurut Ngabila, anak bisa terkena campak jika belum mendapatkan vaksin sama sekali atau tidak mendapatkan vaksin lengkap saat bayi, balita, hingga anak-anak. 

Kondisi ini diperparah jika si anak hidup dalam lingkungan yang kurang bersih, dengan sanitasi buruk, ventilasi minim, dan asupan gizi yang tidak memadai.

"Anak yang tidak divaksin jelas lebih berisiko. Tapi meski anak sudah divaksin, tetap bisa terkena campak jika imunitasnya lemah atau punya penyakit penyerta. Bedanya, gejala akan jauh lebih ringan dan tidak mengancam nyawa," ujar Ngabila.

Campak adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh microorganism dari famili Paramyxoviridae. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak, namun orang dewasa yang belum pernah terinfeksi atau tidak mendapatkan vaksin juga bisa tertular.

Penularan dan Gejala Campak

Campak (measles) dikenal sebagai infeksi microorganism akut yang sangat mudah menular melalui udara, terutama lewat percikan batuk, bersin, atau kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Virus campak masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan dan menyebar ke seluruh tubuh.

Masa inkubasi campak biasanya berlangsung 10–14 hari setelah terpapar virus. Selama masa ini, seseorang belum menunjukkan gejala tetapi sudah bisa menularkan microorganism ke orang lain.

Gejala campak muncul secara bertahap dan biasanya berlangsung selama beberapa hari. Tahap-tahap gejala campak meliputi, gejala awal berupa demam tinggi (bisa mencapai 40°C), batuk kering, hidung meler, mata merah dan sensitif terhadap cahaya (konjungtivitis), dan tubuh lemas dan rewel pada anak-anak.

Kemudian, munculnya bintik boplik. Bintik-bintik putih kecil dengan dasar kemerahan di bagian dalam pipi (tanda khas campak), muncul sekitar 1–2 hari sebelum ruam.

Selanjutnya, ruam kulit (eksantema). Biasanya, ruam ini muncul 3–5 hari setelah gejala awal, berawal dari wajah dan leher, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ruam berlangsung sekitar 5–6 hari, kemudian menghilang secara bertahap.

Pencegahan Campak

Cara terbaik untuk mencegah campak adalah melalui vaksinasi. Di Indonesia, vaksin campak diberikan melalui programme imunisasi dasar berupa vaksin campak pertama usia 9 bulan.

Lalu booster campak-rubella (MR) di usia 18 bulan dan saat masuk sekolah dasar (kelas 1).

Ada pula vaksin MR (Measles-Rubella) yang telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah penyebaran dua penyakit menular ini.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini