Cerita Orang Tua yang Anaknya Ikut Demo DPR dan Ditangkap Oleh Polisi

2 days ago 1

Liputan6.com, Jakarta Dila bersama rekannya duduk di tangga Ditreskrimum Polda Metro Jaya, sembari menulis surat pernyataan.

Dia yang datang dari Bekasi, ingin menjemput anaknya yang ditangkap pihak kepolisian lantaran dianggap terlibat kericuhan pada demo DPR Senin 25 Agustus 2025.

Diketahui, ada 196 anak-anak di bawah umur termasuk pelajar yang ditangkap pihak kepolisian saat mengikuti demo DPR.

Dila mengaku kaget saat teleponnya berdering, di mana anaknya yang bernama Ryan minta dijemput. "Dikabarin, dia telepon minta jemput," kata dia saat ditemui di Polda Metro Jaya, Selasa (26/8/2025).

Dila mengaku, anaknya Ryan yang masih pelajar itu memang pamit ke dirinya untuk ikut demo. "Dia sendiri ikut demo," tuturnya.

Setali tiga uang, Yanti yang berasal dari Cisauk juga harus menjemput anaknya Denis di Polda Metro Jaya. Dia mengaku anaknya sempat pulang ke rumah, tak lama kemudian langsung pergi.

"Ada yang jemput," kata dia.

Yanti tak tahu kemana anaknya pergi. Selang sehari, tepat pada pukul 9 pagi. Keponakanya menghubungi kalau anaknya ditangkap polisi gegara ikut demo DPR.

"Mungkin ada provokatornya. Bocah tuh kalau gak ada yang ajak gak mungkin ikut," cerita Yanti.

Sementara, Dhika, juga mengaku adiknya diajak temannya untuk ikut demo DPR. "Katanya ikut demo. Diajak sama temannya pulang sekolah terus ikut demo. Udah pulang disamper sama temannya untuk demo," singkatnya.

Mengaku Heran

Pemas yang adiknya ditangkap polisi justru heran. Dia bilang, adiknya saat itu nongkrong sepulang sekolah.

Dia bersikukuh adiknya sama sejali tidak mau ikut unjuk rasa. Ia tahu karena adiknya sendiri yang menghubunyi via WhatsApp untuk minta dijemput di Polda Metro Jaya.

"Adik saya abis baik sekolah, terus nongkrong jam 3 an. Di tengah jalan ditangkap. Dia gak ikut demo. Karena posisi lagi jalan sama temannya, langsung ditangkap," ucap Pemas.

Cerita Para Pelajar

Sementara itu, cerita juga datang dari Gusti, salah satu pelajar yang ditangkap. Dia akui mau datang ke DPR untuk berujuk rasa. Namun, baru tiba di Bundaran HI, langsung diboyong oleh polisi.

"Lagi jalan di Bundaran HI. Iya (Mau ke DPR ikut demo). Tapi ditangkap," ucap Gusti.

Saat ditanya soal tuntutan demo, Gusti tahu itu soal tunjangan DPR yang naik sangat tinggi. "Tahu tentang tunjangan DPR," jawab dia.

Namun, karena kejadian ini dia tak mau lagi ikut berkecimpung di jalan untuk menyampaikan pendapat di mula umum. "Kapok," ucap dia.

Ayahnya, Yanto dari Cipinang, tak kuasa menahan kesedihan bisa melihat anaknya kembali kepangkuannya. "Sedih, gak ketemu seharian," kata Yanto.

Dia sebenarnya tak masalah anaknya ikut unjuk rasa. Namun, di usia yang masih belum matang dinilai belum tepat. Mungkin, kalau nanti sudah menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi ia baru merestui.

"Itu hak tapi kalau sudah waktunya. Tetep dukung selama tidak anarkis. Tapi kan ini masih anak-anak," ucap dia.

Cerita juga datang dari Fikri, pelajar lain yang juga diamankan polisi. Senasib, dia juga awalnya ikut demo, tapi begitu sampai Bundaran HI langsung ditangkap polisi.

"Saya sendiri diajak sama temen pas pulang sekolah langsung berangkat DPR. Terus di Bundaran HI diangkut polisi. Belum sempet ke DPR," ucap dia.

Ikutan Medsos

Fikri sendiri tahu ada demo setelah melihat media sosial. Saat itu, ia terpanggil untuk mengambil peran menyampaikan pendapat di muka umum.

"Kurang tahu tuntutan apa karena terpengaruh medsos. Jadi ikut-ikutan," ucap dia.

Saat ditanya kapok sampaikan pendapatkan di muka umum, Fikri menjawab setengah hati, “Waduh kurang tahu dah, liat aja kedepan ya," ucap dia.

Abangnya, Fikri yany bernama Rafi, juga sempat kaget. Karena Fikri tak punya ponsel, ia pinjam ponsel polisi untuk mengabari orang di rumah.

"Langsung berangkat sendiri," ucap dia.

Menurut dia, adiknya sedang mencari jati diri. Dia tak mempermasalahkan adiknya ikut demo karena menurutnya di tengah maraknya informasi sudah hal yang lumrah pelajar jadi tahu kearaan di negara sendiri.

"Buat pribadi memperbolehkan. Tapi dengan syarat dia harus tahu apa yang diaspirasikan. Tidak cuman datang anarkis. Kita melarang itu," tandas dia.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini