Dasco Telepon Menkes, Minta Kasus Campak di Sumenep Segera Diatasi

3 days ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad angkat bicara soal kasus campak di Sumenep, Jawa Timur yang menewaskan 17 orang. Dia mengaku telah meminta Menteri Kesehatan (Menkes) untuk segera menangani kasus tersebut.

"Ya semalem saya sudah langsung telepon dengan Menteri Kesehatan, dan segera meminta diambil langkah-langkah preventif agar hal tersebut bisa cepat tertanggulangi," kata Dasco di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (26/8/2025).

Sebelumnya, kasus campak di Sumenep, Jawa Timur dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah ada 2.035 kasus suspek dan 17 meninggal dunia. Kasus tersebut bahkan sudah tersebar di 26 kecamatan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) menyebut mayoritas yang terkena campak tidak memiliki riwayat imunisasi.

Kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena campak sudah menyebar di 26 kecamatan dan menjangkiti 2.035 orang. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah turun tangan melakukan penyelidikan. Temuan sementara, mayoritas warga yang meninggal karena campak tidak diimunisasi.

"⁠Terdapat 17 kasus kematian dengan mayoritas tidak memiliki riwayat diimunisasi," tutur Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman kepada Liputan6.com pada Sabtu, 23 Agustus 2025.

Kemenkes Ungkap Penyebab Ribuan Warga Sumenep Kena Campak

Sumenep dilanda Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Hingga minggu ke-32 tahun 2025, tercatat 1.944 kasus fishy campak dengan lebih dari separuh (53,3%) penderita adalah balita usia 0-4 tahun.

Lebih memprihatinkan lagi, terdapat 17 anak yang meninggal dunia akibat campak. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, mayoritas tidak memiliki riwayat imunisasi campak.

“Sebagian besar kasus kematian terjadi pada anak yang tidak pernah diimunisasi. Ini menunjukkan betapa pentingnya imunisasi sebagai perlindungan dasar,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman dalam keterangan tertulis, diterima Sabtu (23/8/2025).

Aji juga memaparkan sejumlah faktor mengapa kasus ini bisa terjadi. Menurut Aji, rendahnya cakupan imunisasi menjadi penyebab utama.

“Kalau anak tidak diimunisasi, mereka tidak punya perlindungan terhadap penyakit berbahaya seperti campak,” ujarnya.

Kedua, terkait ramainya hoaks terkait vaksin yang akhirnya menyebabkan keraguan orang tua. “Ada orang tua yang ragu karena terpengaruh informasi keliru. Ini berisiko besar,” ungkap Aji.

Faktor Ketiga

Ketiga, daya tular campak yang sangat tinggi karena microorganism menyebar melalui udara ketika penderita batuk atau bersin, terutama di lingkungan padat dan rumah dengan ventilasi buruk.

Keempat, faktor gizi dan kerentanan campak menjangkit balita. Mengingat lebih dari separuh kasus di Sumenep menyerang balita.

“Anak dengan gizi buruk atau sakit berat jauh lebih rentan terkena campak dan mengalami komplikasi,” kata Aji.

Kelima, adanya keterlambatan deteksi, sehingga ditemukan banyak orang tua yang membawa anak ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) setelah kondisi parah. Hal ini memperbesar risiko penularan ke orang lain.

Aji menuturkan, bahwa campak bisa saja dicegah apabila semua anak diimunisasi. Dengan begitu kasus seperti ini tidak akan terulang kembali.

Apa Itu Campak?

Campak adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh microorganism dari famili Paramyxoviridae. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak, namun orang dewasa yang belum pernah terinfeksi atau tidak mendapatkan vaksin juga bisa tertular.

Meskipun sudah ada vaksinasi yang efektif, campak tetap menjadi ancaman kesehatan di berbagai negara, termasuk Indonesia, terutama ketika cakupan imunisasi menurun.

Campak (measles) dikenal sebagai infeksi microorganism akut yang sangat mudah menular melalui udara, terutama lewat percikan batuk, bersin, atau kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Virus campak masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan dan menyebar ke seluruh tubuh.

Masa inkubasi campak biasanya berlangsung 10–14 hari setelah terpapar virus. Selama masa ini, seseorang belum menunjukkan gejala tetapi sudah bisa menularkan microorganism ke orang lain.

Gejala Campak

Gejala campak muncul secara bertahap dan biasanya berlangsung selama beberapa hari. Tahap-tahap gejala campak meliputi, gejala awal berupa demam tinggi (bisa mencapai 40°C), batuk kering, hidung meler, mata merah dan sensitif terhadap cahaya (konjungtivitis), dan tubuh lemas dan rewel pada anak-anak.

Kemudian, munculnya bintik boplik. Bintik-bintik putih kecil dengan dasar kemerahan di bagian dalam pipi (tanda khas campak), muncul sekitar 1–2 hari sebelum ruam.

Selanjutnya, ruam kulit (eksantema). Biasanya, ruam ini muncul 3–5 hari setelah gejala awal, berawal dari wajah dan leher, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ruam berlangsung sekitar 5–6 hari, kemudian menghilang secara bertahap.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini