Dilarang Masuk RI, Temu Kini Tertekan Persaingan Global, Bagaimana Nasibnya?

1 day ago 1

KOMPAS.com - Platform e-commerce asal China, Temu, menghadapi hambatan serius di berbagai negara. Di Indonesia, aplikasi ini dilarang masuk karena dinilai mengancam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sementara di Amerika Serikat (AS), Temu tertekan kebijakan tarif impor yang membuat biaya logistik semakin mahal.

Meski menghadapi tantangan global, induk usaha Temu, PDD Holdings, tetap mencatat pertumbuhan pendapatan.

Dilansir dari Reuters, pendapatan kuartal II-2025 mencapai 103,98 miliar yuan atau sekitar 14,53 miliar dollar AS (setara Rp 237 triliun dengan kurs Rp 16.322 per dollar AS).

Angka ini naik 7 persen dibanding periode sama tahun lalu, sekaligus melampaui perkiraan analis sebesar 103,34 miliar yuan.

Baca juga: Resmi Blokir Aplikasi Temu, Menkominfo: Lindungi UMKM dari Ancaman Produk Asing

Namun, laba operasional turun 21 persen. Earnings per American Depositary Share (ADS) tercatat 22,07 yuan, melampaui perkiraan analis sebesar 15,74 yuan.

Saham PDD di bursa AS sempat naik 1 persen pada Senin (25/8/2025), setelah sebelumnya melonjak lebih dari 11 persen dalam perdagangan pra-pasar.

Persaingan E-commerce Makin Tajam

Jiazhen Zhao, Co-Chief Executive PDD, mengakui ketatnya persaingan e-commerce di China dan global.

“Dalam kuartal terakhir, kompetisi industri semakin tajam. Dalam kondisi ini, pertumbuhan pendapatan kami melambat dan laba operasional turun signifikan,” ujar Zhao dalam panggilan konferensi dengan analis.

Zhao menegaskan laba kuartal ini tidak berkelanjutan. “Kami memperkirakan akan ada fluktuasi laba pada kuartal-kuartal berikutnya,” tambahnya.

Baca juga: Bukalapak Jawab Rumor Bakal Diakuisisi Temu Asal China

Di pasar domestik, raksasa e-commerce seperti Pinduoduo, JD.com, dan Alibaba sama-sama gencar menawarkan diskon besar untuk mendorong konsumsi, sejalan dengan upaya pemerintah China menghidupkan kembali ekonomi yang lesu.

Strategi Temu di Pasar AS

Di luar negeri, Temu berupaya mengurangi dampak tarif AS dengan mendorong penjualan produk yang sudah berada di gudang AS serta menggandeng penjual lokal.

Temu juga menerapkan exemplary “fully managed”, di mana perusahaan mengendalikan pemilihan produk, penetapan harga, hingga logistik.

Menurut laporan Financial Times pada Selasa (26/8/2025), Temu bahkan kembali meluncurkan pengiriman langsung produk dari China ke konsumen AS setelah sempat dihentikan pada Mei lalu karena ketegangan tarif.

Baca juga: Soal Aplikasi Temu, Kemenperin: Sebaiknya Dilarang

Dalam exemplary ini, Temu menangani logistik dan urusan bea cukai bagi pemasok.

Temu juga menaikkan kembali belanja iklan di AS, setelah sebelumnya memangkas anggaran di tengah perang dagang.

Menurut penyedia information Smarter Ecommerce, nilai belanja iklan diperkirakan kembali ke level kuartal I-2025, sebelum tarif baru diumumkan.

Meski begitu, survei Omnisend menunjukkan 30 persen konsumen di AS sudah merasakan kenaikan harga di Temu. Temu juga masih harus bersaing dengan Amazon yang memiliki skala besar dan kekuatan negosiasi harga dengan pemasok.

Prospek ke Depan

Menurut Jian Xiong Lim, analis di CFRA, tren penurunan laba PDD bisa membuat capitalist lebih berhati-hati.

“Dengan laba yang sudah menunjukkan tren penurunan, pasar kemungkinan akan bersikap ‘tunggu dan lihat’ untuk menilai potensi penurunan lebih lanjut. Dibanding pesaing, eksposur PDD yang lebih besar ke AS melalui Temu berpotensi menekan pertumbuhan pendapatan,” kata Lim, dikutip dari Reuters.

Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!

Read Entire Article









close
Banner iklan disini