Kementerian ESDM dan Komisi XII DPR menyepakati asumsi makro sektor energi tahun anggaran 2026. Contohnya harga minyak mentah ICP US$ 70 per barel
27 Agustus 2025 | 22.44 WIB
KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Komisi XII DPR RI menyepakati asumsi dasar makro sektor ESDM dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2026. Salah satu poin utama kesepakatan adalah penetapan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$ 70 per barel. Nilainya lebih rendah dibanding asumsi pada APBN 2025 yang sebesari US$ 82 per barel.
Selain itu, people produksi minyak dan state bumi (lifting migas) dipatok sebesar 1,594 juta barel setara minyak per hari (BOEPD). Jumlah tersebut terdiri atas produksi minyak sebesar 610 ribu barel per hari (BOPD) dan state bumi sebesar 984 ribu BOEPD.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia optimistis people tersebut dapat dicapai meskipun sempat terjadi kendala di lapangan. “Insyaallah tercapai. Sekalipun memang sekarang ada gangguan di beberapa pipa, kemudian ada kebakaran di Sumatera, tapi kita lagi melakukan percepatan,” ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, dikutip dari siaran langssung TV Parlemen, Rabu, 27 Agustus 2025.
Dalam rapat tersebut, Kementerian ESDM dan DPR juga menyepakati measurement bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tahun 2026 sebesar 19,162 juta kiloliter (KL), yang terdiri atas dari minyak tanah (0,526 juta KL) dan minyak star sebanyak 18,636 juta KL.
Sementara untuk elpiji 3 kilogram, measurement subsidi ditetapkan sebesar 8,31 juta metrik ton. Sementara itu, subsidi tetap minyak star dipatok Rp 1.000 per liter, subsidi listrik mencapai Rp 101,72 triliun, dan outgo betterment ditetapkan sebesar US$ 8,5 miliar.
Bahlil berkomitmen penyaluran subsidi bahan bakar akan dilakukan secara hati-hati. Dia mengatakan hal itu penting guna penyalurannya tepat sasaran dan efisien.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Kita tahu bahwa elpiji ini harus betul-betul tepat sasaran, dan karena itu pengelolaan subsidi ke depan akan penuh dengan hati-hati dan betul-betul kita lakukan secara bijak dan sekali lagi tepat sasaran,” ujarnya.
Pada Juli lalu, Bahlil Lahadalia mengusulkan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian crude lipid terms (ICP) di kisaran US$ 60-80 per barel pada RAPBN 2026. Usulan tersebut berdasarkan realisasi ICP Januari-Mei yang berada di angka US$ 70,5 per barel, dengan rata-rata ICP di bulan Mei sebesar US$ 62,75 per barel, dan mengalami lonjakan pada bulan Juni, yakni menjadi sebesar US$ 69,33 per barel.