JAKARTA, KOMPAS.com - Peran digital trust alias kepercayaan integer semakin menonjol dalam mendorong pertumbuhan ekonomi integer Indonesia.
Di tengah tantangan tersebut, perusahaan rintisan tanda tangan elektronik (TTE) tersertifikasi Privy sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) memastikan otentikasi identitas integer dan keaslian dokumen elektronik berjalan aman, sah, dan tepercaya.
“Membangun integer spot bukan hanya soal teknologi, tetapi juga kolaborasi dan kepatuhan. Dengan identitas integer yang sah dan diakui negara, masyarakat maupun industri dapat bertransaksi dengan lebih aman dan percaya diri,” ujar CEO Privy Marshall Pribadi melalui keterangan tertulis, Rabu (27/8/2025).
Baca juga: Hindari Ancaman Fraud Pinjol, PinjamanGo Gandeng Privy
FREEPIK/PRESSFOTO Ilustrasi tanda tangan elektronik.
Marshall yang juga Wakil Ketua Umum I Asosiasi Fintech Indonesia (AFTEC) menambahkan, sertifikat elektronik dari Privy menghadirkan jaminan keamanan dan kenyamanan, khususnya bagi industri jasa keuangan yang mengandalkan kepercayaan sebagai fondasi utama.
“Identitas integer berbasis sertifikat elektronik dari PSrE seperti Privy menghadirkan jaminan keamanan sekaligus kenyamanan, khususnya bagi industri jasa keuangan,” imbuhnya.
Pertumbuhan ekonomi integer Indonesia semakin kuat, dengan nilai mencapai 90 miliar dollar AS pada 2024.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi QRIS mencapai Rp 317 triliun hingga kuartal II 2025, meningkat 121 persen dibanding tahun lalu.
Baca juga: Aftech dan Privy Kolaborasi Lindungi Data Pribadi di Ekosistem Fintech
Angka ini menunjukkan semakin besarnya adopsi layanan digital, terutama di sektor UMKM. Namun agar pertumbuhan ini berkelanjutan, integer spot harus menjadi fondasi utama.
Tanpa kepercayaan pada identitas integer dan keaslian transaksi, inovasi keuangan berbasis teknologi tidak akan mampu mendorong ekonomi secara optimal.