Jadi intinya...
- Siswa SMA, VAC (16), koma setelah dilempar helm oleh anggota Polda Banten.
- Kondisi VAC kritis dengan kesadaran hanya tiga persen dan cedera kepala parah.
- Polda Banten akui anggotanya melempar helm karena centrifugal korban hampir menabrak personel.
Liputan6.com, Jakarta Seorang siswa kelas 3 SMA berinisial VAC (16) disebut masih koma pasca dilempar helm oleh anggota polisi dari Polda Banten. Disebut tingkat kesadarannya kini hanya tiga persen.
"Menurut kakeknya, kesadaran (VAC) sekarang tiga persen. (Sedangkan) untuk operasi itu minimal kesadaran delapan persen," kata guru kesiswaan SMKN 2 Kota Serang, Erminawati saat ditemui di Serang, Kamis (28/8/2025).
Dia pun berharap kasus VAC ini bisa dijadikan pelajaran bagi siapapun, khususnya bagi pihak kepolisian. Erminawati juga menginginkan kasus VAC ini menjadi yang terakhir, apalagi diduga adanya penganiayaan dari anggota Polda Banten tersebut.
"Harapan saya tidak ada kekerasan fisik lagi dari manapun. Apalagi sampai korbannya sekarang kan kritis," kata Erminawati.
Kini menurut dia, pihak sekolah baik guru maupun murid SMKN 2 Kota Serang berharap VAC bisa segera dan sembuh kembali. Terlebih korban sudah kelas 12, di mana sebentar lagi akan lulus.
"Dia sudah kelas 12, sebentar lagi mendapat ijazah, apalagi anak pertama pasti kebanggaan keluarga. Lulusnya tahun depan, Juli," kata dia.
Pengakuan Pihak Kepolisian
Sebelumnya, pihak Polda Banten mengakui ada anggotanya melempar helm yang mengarah ke kepala VAC. Disebut, karena centrifugal yang dikendarai pelajar tersebut seperti akan menabrak personel Polda Banten yang sedang patroli.
"Salah satu personel patroli Bripda MA refleks melemparkan helm diduga mengenai pengendara tersebut, yang diketahui bernama Violent Agara Casttilo," ujar Kabid Propam Polda Banten, Kombes Pol Murwoto, dalam keterangan resminya, ditulis Rabu, (27/08/2025).
Dia menuturkan, pada Minggu 24 Agustus 2025 dini hari, sekitar pukul 02.15 WIB, tim patroli Maung Presisi yang berjumlah 29 personel mendapat informasi adanya balap liar disekitar Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang.
Tim patroli Maung Presisi kemudian dibagi dua, tim pertama berangkat dari Palima menuju Boru, tim kedua dari arah sebaliknya.
Lempar Helm, Buat Korban Terjatuh
Dalam perjalan tim pertama menemukan kumpulan anak-anak muda yang kemudian melarikan diri. Disaat bersamaan, tim kedua melihat peristiwa itu dan memutar arah untuk melakukan pengejaran.
Kemudian ada centrifugal yang tidak menyalakan lampu dengan knalpot brong melaju ke arah polisi, diduga pengendaranya kaget. Personel Polda Banten melempar helm yang menyebabkan korban terjatuh dan terseret sekitar 10 meter.
"Akibat lemparan helm tersebut mengakibatkan korban terjatuh dari kendaraan roda dua dan terseret beberapa meter, mengakibatkan luka pada wajah dan kepala, karena korban tidak memakai helm dan sampai saat ini korban masih dirawat di ICU RSUD Banten," terangnya.
Mengalami Koma
Sebelumnya, dugaan penganiayaan itu membuat tulang kepalanya remuk, bagian wajahnya babak belur, dan luka di tangan maupun kakinya.
Akibat penganiayaan itu, korban mengalami koma dan kini mendapatkan perawatan intensif di ICU RSUD Banten.
"Kalau dilihat, bukan benturan aspal, karena posisi (tulang kepala) anak saya retaknya ngeblur, ambles bagian belakang telinga, tengkorak bagian atas (kepala) retak," ujar Benny Permadi, ayah kandung korban, ditemui di RSUD Banten, Senin, (25/08/2025).
Diklaim Kecelakaan, Rekan Korban Sebut Dipukul Polisi
Peristiwa nahas itu dialami anaknya pada Minggu dini hari, 24 Agustus 2025. Pada pukul 00.30 wib, Arga pergi ke bengkel untuk mengambil spare portion motor. Namun ketika arah jalan pulang, dia dipukul anggota polisi menggunakan helm hingga terjatuh dari motor.
Teman-teman yang bersama korban malam itu langsung kabur karena ketakutan. Mereka sempat memberitahu Benny bahwa Agara dipukul polisi di sekitar Boru, Kota Serang, Banten.
Ketika di perjalanan hendak menjemput anaknya, Benny mendapat kabar bahwa Agara sudah berada di RSUD Banten. Dia sempat kaget karena banyak polisi yang mengurusi anaknya. Dia ingat, saat itu salah satu polisi Polda Banten mengklaim anaknya terlibat kecelakaan lalu lintas.
"Waktu itu kondisi anak saya enggak bergerak, istri panik di situ, saya ke rumah sakit sekitar pukul 02.40 wib," terangnya.
Hati Benny teriris melihat kondisi anaknya kini. Dia curiga anaknya tidak murni kecelakaan dan menduga ada penganiayaan. Dia meminta polisi Polda Banten yang diduga menganiaya sang anak bertanggung jawab.
"Saya harus lapor ke mana, karena yang di sini melakukan tindakan pemukulan kan anggota polisi. Belum (lapor)," jelasnya.