Mengenal Topan Kajiki, Badai Terkuat di Asia Tenggara

3 days ago 1

TOPAN Kajiki membuat repot banyak negara. Badai ini menjadi ancaman serius bagi kawasan pesisir Vietnam dan Pulau Hainan di Cina.  

Angin yang berkecepatan 166 kilometer per jam ini tercatat sebagai topan yang terkuat dan paling berbahaya sepanjang tahun. Kajiki berkembang cepat dari depresi tropis menjadi badai dengan kekuatan penuh, memaksa pemerintah setempat mengerahkan langkah darurat skala besar.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pemerintah Vietnam langsung bertindak cepat. Seperti dikutip dari Guardian, lebih dari 500 ribu warga di lima provinsi pesisir diperintahkan untuk mengungsi ke lokasi aman. Keputusan itu diambil setelah prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan deras disertai angin kencang yang bisa memicu banjir bandang dan tanah longsor.

Sejumlah sekolah diliburkan, sementara bandara di kawasan terdampak ditutup. Puluhan penerbangan dibatalkan demi mengurangi risiko keselamatan. Tentara juga diturunkan untuk membantu proses evakuasi, sekaligus menyiapkan penanganan darurat pasca-badai.

Kajiki diperkirakan akan menghantam Provinsi Thanh Hoa dan Nghe An, wilayah yang dikenal rawan bencana hidrometeorologi. Laporan otoritas cuaca menyebutkan gelombang laut di Teluk Tonkin bisa mencapai ketinggian 9,5 meter, mengancam jalur transportasi laut dan nelayan setempat. Sementara itu, curah hujan ekstrem yang diprediksi menembus 700 milimeter berpotensi melumpuhkan aktivitas sehari-hari. Risiko longsor dan banjir bandang pun semakin besar, terutama di daerah perbukitan dan kawasan pemukiman padat penduduk.

Selain membawa ancaman keselamatan jiwa, badai Kajiki juga diperkirakan berdampak besar terhadap roda perekonomian. Seperti dikutip dari Time, kawasan industri di sekitar kota Vinh, yang menjadi ground manufaktur dan pusat produksi komponen elektronik untuk pasar global, terancam lumpuh. Penutupan pabrik, gangguan rantai pasok, serta kerugian finansial ditengarai akan menambah beban ekonomi Vietnam yang tengah berupaya pulih pascapandemi dan ketidakstabilan global.

Kehadiran Kajiki juga kembali mengingatkan pada bencana alam serupa di masa lalu. Tahun lalu, Topan Yagi menelan ratusan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan infrastruktur senilai miliaran dolar. Pola yang sama terlihat: badai datang dengan cepat, sulit diprediksi, dan menghantam wilayah dengan garis pantai panjang yang rawan. Para pakar iklim menilai intensitas topan yang makin sering dan kuat ini terkait dengan perubahan iklim global, yang memicu suhu laut lebih hangat dan mempercepat pembentukan badai tropis.

Meski teknologi prediksi cuaca semakin maju, badai Kajiki menunjukkan betapa sulitnya mengantisipasi cuaca ekstrem. Seperti dilansir dari New York Times, dalam hitungan jam statusnya bisa berubah dari depresi tropis biasa menjadi badai besar. Hal ini membuat pemerintah daerah harus bergerak cepat, sementara masyarakat dituntut disiplin mengikuti instruksi evakuasi.

Situasi ini sekaligus menjadi ujian bagi sistem mitigasi bencana di Asia Tenggara. Evakuasi massal, penutupan akses transportasi, hingga penyediaan logistik darurat menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak buruk. Namun, tetap ada kekhawatiran bahwa jika topan ini bertahan lebih lama dari perkiraan, jumlah korban maupun kerugian worldly bisa meningkat tajam.

Hingga kini, masyarakat di wilayah terdampak terus diperingatkan agar tetap waspada. Pemerintah Vietnam dan Cinamemantau perkembangan badai Kajiki secara intensif. Semua langkah darurat ditempuh dengan harapan dapat meminimalkan jatuhnya korban dan kerusakan besar akibat badai tropis paling mematikan tahun ini.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini