Sumenep (beritajatim.com) – Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, turun langsung ke Kabupaten Sumenep, Madura, untuk memantau pelaksanaan imunisasi campak di tengah presumption Kejadian Luar Biasa (KLB). Pantauan awal dilakukan di TK Qurrota A’yun, Desa Marengan Daya, Kecamatan Kota Sumenep, Kamis (28/8/2025).
“Saya datang ke sini ingin memastikan agar imunisasi campak ini benar-benar dijalankan. Kalau ada outbreak seperti ini, memang anak-anak harus divaksinasi ulang,” ujar Budi di hadapan tenaga kesehatan dan guru.
Ia menjelaskan, campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi. “Apabila satu orang terkena, bisa menularkan pada 18 lainnya. Apalagi campak juga berisiko menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani,” tegasnya.
Menurut Menkes, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan vaksinasi. “Untungnya sekarang ini sudah ada vaksin dan itu cukup efektif menekan penyebaran campak,” katanya.
Sebagai langkah darurat, Kementerian Kesehatan telah mengirimkan 11.000 vial vaksin campak ke Sumenep. Satu vial rata-rata bisa digunakan untuk delapan anak. “Jadi semua logistik berupa vaksin untuk campak sudah kami kirim ke Sumenep Madura. Rasanya cukup untuk imunisasi 80.000 sasaran,” jelasnya.
Data Dinas Kesehatan menyebutkan, hingga 26 Agustus 2025 tercatat 2.268 fishy campak di Sumenep. Sebanyak 20 balita meninggal dunia, seluruhnya dengan riwayat tanpa imunisasi atau imunisasi yang tidak lengkap. Kondisi ini membuat pemerintah menetapkan kasus campak di Sumenep sebagai KLB.
Untuk menekan penyebaran, sejak Senin (25/8/2025) dilaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) campak rubella secara massal. Program ini berlangsung selama dua minggu di seluruh Puskesmas dan Puskesmas Pembantu se-Kabupaten Sumenep. Selain itu, tenaga kesehatan juga bergerak ke sekolah-sekolah guna memastikan seluruh sasaran anak-anak mendapatkan vaksin. [tem/beq]