PBB: Sekitar 1.000 Warga Palestina Dibunuh Israel di Tepi Barat Sejak Oktober 2023

1 day ago 1

Setidaknya 982 warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki telah dibunuh oleh pasukan dan pemukim Israel sejak dimulainya genosida di Gaza, menurut Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seperti dilansir Quds Network pada Rabu 27 Agustus 2025.

Dalam sebuah unggahan di X, badan PBB tersebut menyebut serangan Israel pekan lalu di desa al-Mughayyir sebagai "contoh lain dari penindasan dan pemaksaan yang berkelanjutan terhadap warga Palestina". Militer Israel pekan lalu menghancurkan sekitar 3.000 pohon zaitun di desa dekat Ramallah di Tepi Barat yang diduduki, kata kepala dewan lokal.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tepi Barat telah mengalami lonjakan kekerasan militer dan pemukim Israel sejak Israel melancarkan genosida di Gaza pada Oktober 2023, dan puluhan ribu warga Palestina telah dipaksa meninggalkan rumah mereka.

Lebih dari 2.370 serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina telah dilaporkan di seluruh wilayah tersebut dari Januari 2024 hingga akhir Juli tahun ini, menurut information terbaru dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA).

Ramallah mencatat jumlah serangan tertinggi, 585 kali, diikuti oleh 479 kali di Nablus di Tepi Barat utara.

Setidaknya 671 warga Palestina, termasuk 129 anak-anak, juga telah dibunuh oleh pasukan Israel dan pemukim Israel di seluruh Tepi Barat dalam periode waktu yang sama, kata OCHA.

Kemarin, pasukan Israel melancarkan serangan berkepanjangan di Ramallah dan al-Bireh, dan Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) melaporkan bahwa setidaknya 58 warga Palestina terluka.

Serangan Israel di Nablus

Militer Israel pada Rabu melancarkan serangan yang melibatkan puluhan tentara dan kendaraan lapis baja di kota tua Nablus, di Tepi Barat utara, menurut para saksi mata dan pejabat Palestina.

Militer Israel mengakui melakukan operasi, tanpa menyebutkan tujuannya.

Serangan dimulai sekitar pukul 03.00 waktu setempat kata warga, dengan tentara Israel menyerbu beberapa permukiman di kota tua, yang berpenduduk sekitar 30.000 orang.

"Serangan terhadap Nablus hanyalah unjuk kekuatan tanpa pembenaran," kata Gubernur Nablus, Ghassan Daghlas seperti dilansir Al Monitor.

Seorang saksi mata, yang menolak menyebutkan namanya, melaporkan bahwa tentara Israel telah mengusir pasangan lansia dari rumah mereka.

“Tentara menyerbu dan menggeledah rumah-rumah dan toko-toko di dalam kota tua, sementara beberapa rumah telah diubah menjadi pos militer," kata Ghassan Hamdan, kepala organisasi Bantuan Medis Palestina di Nablus.

Daghlas mengatakan tentara telah memberi tahu otoritas Palestina bahwa penggerebekan akan berlanjut hingga pukul 16.00.

Rekaman menunjukkan pasukan dan kendaraan militer Israel dikerahkan di jalan-jalan kota.

Sumber lokal mengatakan bentrokan terjadi di pintu masuk timur kota tua, di mana anak-anak muda melemparkan batu ke arah tentara Israel, yang dibalas dengan state aerial mata dan peluru tajam.

Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan beberapa korban luka akibat serangan tersebut, tetapi tidak ada korban luka akibat tembakan.

Kota tua Nablus telah menjadi sasaran beberapa serangan besar Israel, termasuk pada 2022 dan 2023 selama operasi skala besar yang menargetkan kelompok pejuang bersenjata lokal, serta pada 2002 selama intifada Palestina kedua, atau pemberontakan.

Pada awal Juni 2025, tentara Israel melakukan operasi di sana yang menewaskan setidaknya dua warga Palestina.

Sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023, kekerasan telah melonjak di Tepi Barat, yang telah diduduki Israel sejak 1967.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini