Liputan6.com, Jakarta- Fakta baru kasus penculikan dan pembunuhan kepala cabang bank BUMN Cempaka Putih, berinisial MIP (37) kembali terkuak. Polisi menyebut, ada empat klaster di balik tewasnya MIP.
Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya, AKBP Abdul Rahim menjelaskan, klaster pertama otak pembunuhan. Kedua, pembuntut. Ketiga, penculik. Keempat, eskekutor yang menganiaya korban hingga tewas.
Abdul Rahim menyebut, dari empat klaster itu, 15 orang sudah ditangkap. Penangkapan dilakukan secara terpisah.
"Yang sudah ditangkap dan ditetapkan tersangka sudah 15 orang yaitu aktor intelektual, kluster yang membuntuti, kluster yang menculik dan kluster penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia dan membuang korban," kata Abdul Rahim, Rabu (27/8/2025).
Pengakuan Kubu Penculik Ada 3 Klaster
Pada Selasa (26/8/2025) kemarin, kuasa hukum empat tersangka penculikan, Adrianus Agau mengatakan ada tiga klaster pembunuhan MIP.
Klaster pertama adalah klaster pengintai. Klaster kedua adalah klaster penjemputan paksa atau penculikan. Klaster ketiga adalah eksekutor.
Kliennya, yaitu AT, RS, RAH, EW alias Eras hanya diperintahkan membawa korban secara paksa. Aksi selanjutnya, mereka dipastikan tidak terlibat.
“Bahwa atas peristiwa pidana ini, ada tiga klaster,” tutur Adrianus kepada wartawan, Selasa (26/8/2025).
Sebagai informasi, dari 15 pelaku yang ditangkap, baru delapan orang yang diketahui inisialnya. Mereka adalah pelaku penculikan AT, RS, RAH, dan RW. Empat orang lainnya otak dari penculikan dan pembunuhan berinisial DH, YJ, AA, dan C. Sisanya, tujuh orang belum terungkap identitasnya.
Korban Ditemukan Tewas dengan Kaki-Kepala Terlilit Lakban Hitam
Kepala Kantor Cabang slope di Jakarta berinisial MIP diduga menjadi korban penculikan dan pembunuhan di pusat perbelanjaan di Ciracas, Jakarta Timur.
Jenazah ditemukan di Kampung Karangsambung, RT 8/RW 4, Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, sekitar pukul 05.30 WIB.
Warga di country persawahan yang pertama kali menemukan jenazah dalam kondisi tangan dan kaki terikat, sedangkan mata terlilit lakban. Polisi membawa jenazah kepala cabang slope itu ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur untuk proses penyelidikan.
Detik-detik penculikan IP, terekam jelas dalam kamera CCTV pusat perbelanjaan kawasan Ciracas. Dalam video, IP terlihat berjalan santai menuju mobil hitam miliknya. Dia mengenakan batik coklat dan celana krem. Tidak ada tanda-tanda curiga.
Hingga saat dia membuka pintu mobilnya, tiba-tiba tiga pria tak dikenal muncul dari arah samping kanan. Ketiganya langsung menyergap IP. IP tampak mencoba melawan, namun kalah jumlah. Tubuhnya didorong, diseret, lalu dipaksa masuk ke dalam mobil putih yang sudah siaga tepat di sebelah mobilnya.
Aksi brutal itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum mobil pelaku melaju cepat meninggalkan lokasi. Salah satu rekan kerja IP sempat melihat mobil putih tersebut kabur dari lahan parkir. Rasa curiga langsung muncul, namun sudah terlambat.
Kanit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKP Charles Bagaisar mengatakan, sebelum disergap, IP baru saja menyelesaikan rapat dengan rekan-rekan kerjanya.
"Korban habis gathering kantor, sama teman-teman kantornya juga," ucapnya.
Penculik Diperintah Sosok Berinisial F
Kuasa hukum empat tersangka penculikan, Adrianus mengulas, kliennya menculik korban pada sore hari usai menerima perintah dari oknum berinisial F. Mereka diminta membawa korban ke daerah Jakarta Timur.
“Ada jeda waktu pada saat dijemput paksa dengan diserahkan itu. Setelah diserahkan, keempat pelaku penjemputan paksa ini, mereka sudah selesai tugas dan mereka pulang,” jelas dia.
Setelah beberapa jam, keempat tersangka penculikan dipanggil kembali untuk memulangkan korban. Namun saat tiba, mereka kaget ternyata yang dijemput dalam kondisi meninggal dunia.
“Yang menjadi catatan kami di sini, pada saat mereka mengantar itu mereka juga dalam tekanan. Dan mereka salah satu terduga penjemputan paksa ini, menyampaikan ke keluarganya bahwa mereka memang baru diperintahkan untuk membuang jenazah. Jadi peran mereka itu sampai di situ,” ungkapnya.
Pihak tersangka pun memohon perlindungan kepada Panglima TNI dan Kapolri atas dugaan keterlibatan oknum aparat.
“Mereka tidak mengeksekusi. Makanya kan ada tiga klaster. Klaster pertama itu klaster pengintai. Mereka mengintai si korban. Terus klaster yang kedua ini ada yang empat orang yang menjemput paksa ini. Klaster ketiga itu yang melakukan eksekusi. Eksekusi dalam hal ini dari information penemuan kami di lapangan ada dugaan oknum,” tutup Adrianus.