Poros Pelajar Soroti Impor Food Tray untuk Program Makan Bergizi Gratis

4 days ago 1

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah organisasi pelajar Islam yang tergabung dalam Poros Pelajar menyoroti kebijakan impor food tray untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka menilai, kebutuhan tersebut seharusnya dapat dipenuhi oleh produsen dalam negeri tanpa harus mengandalkan produk impor.

Kalangan pelajar lintas organisasi Islam, yakni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), dan Pelajar Islam Indonesia (PII). Ketiganya tergabung dalam Poros Pelajar.

Mereka menyoroti Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2025 yang mengatur kebijakan dan pengendalian impor barang industri tertentu di Indonesia, terutama soal impor wadah makanan (food tray).

Menurut mereka, impor food tray berpotensi merugikan produsen dalam negeri dan hanya membuat anggaran negara mengalir ke luar negeri.

Baca juga: Supplier Keluhkan Impor Food Tray Ilegal dari China Banjiri Pasar Domestik

Ketua Umum PP IPNU, Muh. Agil Nuruz Zaman, menyebut bahwa kebutuhan food tray seharusnya bisa dipenuhi oleh industri nasional, tanpa dipasok dari negara luar.

“Kami merekomendasikan terkait program MBG, khususnya produk food tray ini lebih mendukung kepada pengusaha lokal Indonesia. Agar anggaran-anggaran negara ini tidak menguap di luar negeri, belanja produknya dari Indonesia, bahannya dari Indonesia dan juga dicetak di Indonesia,” ujar Agil Nuruz Zaman saat ditemui di gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Senin (25/8/2025).

Adapun, Permendag Nomor 22 Tahun 2025 ikut ikut mengatur mekanisme masuknya produk food tray dari luar negeri ke Tanah Air. Food tray merupakan wadah sekali pakai yang digunakan untuk membungkus atau menyajikan makanan, dan kini menjadi salah satu kebutuhan bagi program Makan Bergizi Gratis.

Namun, Permendag ini menuai sorotan karena dianggap berpotensi melemahkan industri dalam negeri, jika impor food tray dibuka lebar. Poros Pelajar menilai produsen lokal sebenarnya mampu memproduksi food tray dengan bahan baku yang tersedia di Indonesia.

“Ya sifat kami hanya merekomendasikan dan memberikan semacam saran kepada Kemendag agar ya, ini lho produsen negeri ini sudah banyak, mana ruang mana tempatnya. Jadi sifatnya rekomendasi dan mendorong pemerintah ayo dong stop impor, jangan pakai produk luar negeri, kita mampu lho,” paparnya.

Baca juga: Pengamat: Kita Bicara Hilirisasi tetapi Food Tray Saja Kok Impor…

Selain soal ekonomi, aspek keamanan dan kehalalan produk juga menjadi sorotan. Ia menekankan, dengan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, pemerintah wajib memastikan food tray yang beredar tidak hanya sehat, tetapi juga halal.

“Di mana di Indonesia ini 80 persen lebih mayoritas penduduknya muslim. Dan tentunya produk yang aman itu bukan produk yang sehat saja, tapi produk yang halal,” beber Agil Nuruz Zaman.

Poros Pelajar juga menekankan pentingnya standar mutu nasional. Selama tidak ada jaminan Sertifikat Nasional Indonesia (SNI), keamanan produk impor dinilai masih meragukan.

“Yang jelas kesehatan produk itu harus ada SNI-nya. Produk SNI harus negara yang menjamin keselamatan itu, jadi food tray itu harus ter-SNI produknya,” katanya.

Baca juga: Food Tray dari China untuk MBG, Mendag Sebut Kebutuhan Sangat Besar

Untuk diketahui, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa pemerintah tidak semata-mata bergantung pada food tray impor untuk program MBG.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, memastikan bahwa produk dalam negeri juga sudah ikut digunakan dalam distribusi program MBG.

Pernyataan tersebut menjadi klarifikasi atas kritik yang menilai pemerintah lebih memilih produk impor ketimbang mendukung industri nasional.

“Keduanya impor dan lokal,” ujar Dadan kepada wartawan awal Agustus 2025 lalu.

Baca juga: Akui Gunakan Food Tray Impor dari China, Begini Alasan Bos BGN

Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!

Read Entire Article









close
Banner iklan disini