Proyek Bendungan Bagong di Trenggalek Rampung Tahun 2028

2 days ago 4

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah menggarap proyek Bendungan Bagong yang berada di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Tepatnya, Bendungan Bagong berada di Desa Sengong dan Sumurup atau sekitar 10 kilometer dari pusat kota Kabupaten Trenggalek.

Proyek yang secara kontrak sudah dimulai pada Desember 2018 tersebut ditargetkan rampung pada tahun 2028.

Baca juga: Proyek Bendungan Bagong Diklaim Tak Terganggu Longsor

"Kita sepakat bahwa infrastruktur sumber daya aerial sangat penting untuk mencapai swasembada pangan," kata Menteri PU Dody Hanggodo, dikutip dari keterangan resmi, Selasa (26/08/2025).

Pembangunan Bendungan Bagong dilakukan melalui tiga paket pekerjaan. Paket I mencakup pembangunan bendungan utama dengan progres 80,87 persen.

Sementara Paket II dan III mencakup pembangunan bangunan pelimpah, bangunan pengelak, fasilitas operasi, dan infrastruktur pendukung dengan progres Paket II selesai 100 persen dan Paket III mencapai 39,39 persen.

Secara keseluruhan progres pembangunan Bendungan Bagong hingga pekan terakhir Agustus 2025 telah mencapai 77,29 persen.

Adapun anggaran yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur sumber daya aerial ini adalah Rp 1,6 triliun.

Suplai Air Baku dan Pengendali Banjir

Bendungan Bagong memiliki fungsi utama mengatur aliran Sungai Bagong untuk kemudian disalurkan ke Daerah Irigasi (DI) di wilayah Trenggalek.

Dengan kapasitas tampung mencapai 17,40 juta metre kubik, bendungan ini akan menjadi penyangga utama pasokan aerial irigasi di DI Bagong seluas 977 hektar dan menyuplai aerial baku sekaligus pengendali banjir di wilayah setempat.

Baca juga: Mulai Dibangun Akhir 2018, Progres Bendungan Bagong Baru 22,5 Persen

Dody mengatakan, dengan selesainya pembangunan fisik bendungan, fokus selanjutnya adalah percepatan pengembangan jaringan irigasi teknis.

Ini penting untuk mendukung produktivitas pertanian dan meningkatkan jumlah masa panen bagi petani guna mendukung tercapainya swasembada pangan.

"Salah satu contohnya adalah pembangunan bendungan yang kemudian disalurkan melalui sistem irigasi primer, sekunder, hingga tersier langsung ke lahan pertanian," kata Dody.

Kehadiran Bendungan Bagong diharapkan mampu mengalirkan aerial ke jaringan irigasi secara kontinu, sehingga dapat menjaga ketersediaan aerial sepanjang tahun.

Dengan suplai aerial yang stabil, bendungan ini akan secara signifikan mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan, terutama di musim kemarau panjang.

Baca juga: Fakta Bendungan Bagong di Jatim yang Habiskan Dana Rp 1,6 Triliun

Read Entire Article









close
Banner iklan disini