Proyek Kilang Minyak Rp200 T di Blitar Gunakan Jalur Laut untuk Jangkau 29 Negara

2 days ago 1

Blitar (beritajatim.com) – Proyek pembangunan kilang minyak di Blitar Selatan kian menunjukkan keseriusan. Investor asing asal India, Ambani, bahkan telah menyatakan ketertarikannya terhadap proyek kilang minyak swasta di selatan Jawa ini.

Perusahaan Ambani telah menyatakan sepakat terhadap ringkasan studi kelayakan yang diajukan oleh PT. Blitar Putra Energi. Kini komunikasi antara perusahaan Ambani dengan PT. Blitar Putra Energi selaku penggagas proyek pun kini terus terjalin demi terwujudnya kilang minyak senilai Rp200 triliun tersebut.

“Khusus yang India kemarin sudah mengatakan datanya sudah oke, kita tunggu aja undangannya ke sana, audiensi. Kalau benar tertarik pasti ada undangan ke sana,” ucap M. Toha, Direktur PT Blitar Putra Energi pada Rabu (27/8/2025).

PT. Blitar Putra Energi sendiri mengantongi izin lokasi atas lahan seluas 1.500 hektar di kawasan pantai Peh Pulo, Desa Sumbersih, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Tanah tersebut berada persis di tepi Pantai Peh Pulo.

Rencananya di lahan seluas 1.500 hektar tersebut akan dibangun dua pabrik yakni kilang serta petrokimia untuk pengolahan turunan produk minyak. Nantinya kilang minyak dan petrokimia ini tidak akan bergantung pada akses darat.

Aktivitas produksi dan penjualan produk minyak akan lebih banyak dilakukan melalui jalur laut. Jalur laut ini dinilai lebih fisibel untuk menjangkau pangsa pasar ekspor. Bahkan diperkirakan dengan menggunakan jalur laut ada 29 negara yang bisa jangkau oleh kilang minyak swasta ini.

Nantinya 90 persen aktivitas di kilang minyak swasta ini akan menggunakan jalur laut. Sementara 10 persennya baru menggunakan jalur darat, ini sekaligus menjawab tantangan soal infrastruktur jalan yang belum mumpuni di wilayah selatan.

“Proyek ini secara ekonomi infrastruktur yang lebih banyak dipakai itu adalah laut, mulai dari pembangunannya bahan-bahannya akan dikirim dari laut langsung ke pelabuhan Blitar artinya nanti akan membangun pelabuhan semetara, begitu proyek jadi cargonya pun kebanyakan akan menggunakan kapal tanker di kirim ke Bali, Kalimantan dan India menggunakan kapal tanker,” bebernya.

Tepi Pantai Peh Pulo dirasa fisibel untuk membangun dua pabrik tersebut. Selain luasan lahan di tepinya yang mencapai 1.500 hektar, kedalam laut Peh Pulo juga telah memenuhi kriteria dari hasil studi kelayakan.

Diketahui ke dalam laut Peh Pulo mencapai 50 metre lebih. Ini memungkinkan untuk kapal tanker pembawa minyak mentah melintas di lokasi kilang minyak tersebut. Diketahui bahwa kapal tanker bermuatan 1 juta barel minyak membutuhkan laut dengan minimal kedalaman 30 metre agar bisa melintas.

“Asal tahu aja kapal tanker yang membawa minyak mentah dari timur tengah, karena bahan bakunya kan impor pakai tanker, sekali bawa itu 1 juta barel. Itu gambarannya, besarnya kapal tanker adalah 3 kali lapangan sepak bola, berarti hampir 300 meter. Nanti BBM mungkin separuhnya itu dan itu butuh kedalaman 30 metre karena bawa 1 juta barel itu berat,” jelasnya.

Dengan kondisi laut tersebut, ini menjadi anugerah bagi Blitar untuk bisa merealisasikan proyek swasta bertaraf internasional. Kini proyek ini terus berjalan dan diharapkan sudah ada titik terang tentang capitalist pada tahun 2026 mendatang.

“Ini anugrah bagi warga Blitar mempunyai tanah kosong 1500 hektar di pinggir pantai atau pulau dengan kedalam segitu itu sudah layak untuk pelabuhan internasional ke dalam itu,” pungkasnya.

Kilang minyak di pesisir Blitar ini diperkirakan memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah mencapai 300 ribu barel per hari. Sementara untuk pabrik petrokimia diperkirakan mampu mengolah produk turunan dari minyak hingga 8 juta ton.

Dengan kondisi tersebut maka keberadaan dari kilang minyak ini juga akan membuka lapangan pekerjaan untuk warga sekitar. Diperkirakan kilang minyak swasta ini akan menyerap lebih dari 2.000 tenaga kerja. Selain itu, selama lima tahun proses konstruksi, proyek akan membutuhkan 20 ribu pekerja.

Ditambah lagi, beragam manfaat ekonomi lainnya bagi masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Dari sisi kepentingan nasional, bahan bakar minyak (BBM) dan bahan plastik yang diproduksi dari dalam negeri, masih jauh dibawah kebutuhan sehingga angka impor masih tinggi dan terus meningkat.

Kata Toha, angka impor minyak mentah (crude oil) dan BBM sebesar sekitar 800 ribu barel per hari. Sedangkan impor beragam bahan plastik Indonesia ada di angka sekitar 3 juta ton per tahun.

“Kilang minyak akan ikut berkontribusi mengurangi nilai impor crude lipid dan BBM. Untuk produk petrokimia berupa bahan plastik dan turunannya, industri petrokimia akan menutup seluruh defisit yang ada,” pungkasnya. [owi/beq]

Read Entire Article









close
Banner iklan disini