Reaksi Dunia atas Serangan Israel yang Tewaskan 5 Jurnalis

3 days ago 1

Dunia internasional mengutuk serangan Israel terhadap Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza selatan pada Senin. Serangan ini dilakukan dua kali—pertama membidik sejumlah jurnalis—dan serangan kedua membidik petugas penyelamat serta tim medis yang berusaha mengevakuasi korban.

Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi bahwa 20 warga Palestina, termasuk pasien, tenaga kesehatan, personel pertahanan sipil, dan jurnalis, tewas, sementara beberapa lainnya terluka dalam serangan tersebut.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Teleisi resmi Palestina melaporkan bahwa di antara korban tewas terdapat juru kameranya, Hussam al-Masri yang juga bekerja untuk Reuters. Sementara saluran Qatar, Al Jazeera, mengonfirmasi bahwa fotografernya, Mohammad Salama, juga tewas.

Sebuah sumber medis mengonfirmasi kepada Anadolu kematian jurnalis foto Mariam Abu Dagga yang bekerja lepas untuk AP.

Jurnalis foto Moaz Abu Taha yang bekerja untuk NBC juga tewas dalam serangan Israel di rumah sakit tersebut.

Sumber medis kemudian melaporkan bahwa Ahmed Abu Aziz, seorang newsman lepas Quds Network, meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan Israel tersebut.

Seorang jurnalis Palestina lain tewas dalam serangan terpisah Israel. Hassan Douhan, jurnalis harian Palestina Al-Hayat Al-Jadida, tewas dalam serangan Israel di wilayah Al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza selatan, demikian pernyataan Kantor Media Pemerintah Gaza.

Kantor media tersebut menyatakan bahwa kematian baru ini menambah jumlah jurnalis Palestina yang tewas dalam serangan Israel sejak Oktober 2023 menjadi 246 orang.

Hal itu membuat setidaknya 47 warga Palestina, termasuk enam jurnalis, tewas pada Senin dan puluhan lainnya terluka dalam serangan terbaru Israel di Jalur Gaza, menurut petugas medis.

Kecaman Dunia

Asosiasi Pers Asing (FPA) mengecam serangan terbaru Israel yang menewaskan lima jurnalis yang bekerja untuk media berita internasional terkemuka di Jalur Gaza selatan.

"Asosiasi Pers Asing sangat marah dan terkejut," demikian pernyataan FPA seperti dilansir Anadolu, merujuk pada pembunuhan jurnalis Reuters, AP, dan Al Jazeera oleh Israel.

Menyebutnya sebagai "serangan Israel paling mematikan terhadap jurnalis yang bekerja untuk media internasional sejak perang Gaza dimulai," pernyataan tersebut mengatakan bahwa "serangan tersebut mengenai tangga luar rumah sakit tempat para jurnalis sering kali berdiri dengan kamera mereka.

Serangan itu terjadi tanpa peringatan."

"Kami menuntut penjelasan segera dari Pasukan Pertahanan Israel dan Kantor Perdana Menteri Israel," katanya, seraya menyerukan Israel untuk "menghentikan praktik keji yang menargetkan jurnalis."

"Ini sudah berlangsung terlalu lama. Terlalu banyak jurnalis di Gaza yang dibunuh oleh Israel tanpa pembenaran," lanjutnya, seraya menambahkan bahwa Israel "terus memblokir akses independen jurnalis internasional ke Gaza."

FPA juga meminta para pemimpin internasional untuk "melakukan segala yang Anda bisa untuk melindungi rekan-rekan kita."

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Swiss "mengutuk keras" serangan Israel tersebut. "Swiss mengutuk keras serangan Israel terhadap Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, yang menyebabkan banyak korban sipil," tulis kementerian tersebut di situs media sosial AS, X seperti dilansir Anadolu.

Kementerian tersebut mencatat bahwa warga sipil dan infrastruktur sipil harus dilindungi "setiap saat" sesuai dengan hukum humaniter internasional.

Dewan Keamanan PBB Didesak untuk Bertindak

Reporters Without Borders (RSF) mengecam keras serangan Israel ini dan menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil tindakan guna menghentikan pembantaian tersebut.

Organisasi pers internasional tersebut menyatakan bahwa lima jurnalis Palestina "sengaja menjadi sasaran" oleh militer Israel dalam serangan di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza selatan.

"RSF sekali lagi menyerukan Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB untuk mengakhiri pembantaian jurnalis ini," kata kelompok itu, seraya menambahkan bahwa lebih dari 200 jurnalis telah dibunuh oleh tentara Israel sejak Oktober 2023, termasuk setidaknya 56 orang akibat pekerjaan mereka.

Direktur Jenderal RSF Thibaut Bruttin mengecam keras serangan terbaru tersebut, dan menekankan bahwa Israel telah sengaja menargetkan jurnalis yang meliput konflik di Gaza.

"Seberapa jauh angkatan bersenjata Israel akan bergerak dalam upaya bertahap mereka untuk menghilangkan informasi yang datang dari Gaza? Berapa lama mereka akan terus menentang hukum humaniter internasional?" kata Bruttin dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Anadolu.

"Perlindungan jurnalis dijamin oleh hukum internasional, namun lebih dari 200 jurnalis telah dibunuh oleh pasukan Israel di Gaza selama dua tahun terakhir."

Organisasi tersebut menekankan bahwa pembunuhan tersebut terjadi satu dekade setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 2222, yang secara khusus membahas perlindungan jurnalis dalam konflik bersenjata.

"Sepuluh tahun setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 2222, yang melindungi jurnalis di masa konflik, tentara Israel mengabaikan penerapannya," kata Bruttin.

"RSF menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk memastikan resolusi ini akhirnya dihormati, dan langkah-langkah konkret diambil untuk mengakhiri impunitas atas kejahatan terhadap jurnalis, melindungi jurnalis Palestina, dan membuka akses ke Jalur Gaza bagi semua wartawan."

Read Entire Article









close
Banner iklan disini