Review Pengguna BYD Dolphin Selama 1 Tahun, Ini Plus Minusnya

3 days ago 2

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu mobil listrik pertama yang dijual BYD untuk pasar Indonesia adalah Dolphin. Saat itu BYD meluncurkan tiga mobil pertamanya, Dolphin, Atto 3 dan Seal, tepatnya di awal 2024.

Saat pertama meluncur, Dolphin dibanderol mulai Rp 369 juta untuk Dynamic Standard Range dan Rp 429 juta untuk Premium Extended Range.

Hadyan Ahmad Farizi, salah satu pemilik Dolphin membagikan pengalamannya selama pemakaian satu tahun. Domisilinya di Bogor dan bekerja di Jakarta, saat ini sudah digunakan sejauh 38.000 Km.

Baca juga: Update Pabrik BYD dan VinFast di Indonesia, Sudah Sampai Mana?

Pengalaman kepemilikin BYD Dolphin selama satu tahunHADYAN Pengalaman kepemilikin BYD Dolphin selama satu tahun

"Sudah setahun pas, menurut saya worthy it (sepadan) banget. Apalagi baru bayar pajak tahunan cuma Rp 145.000," ucap Hadyan kepada Kompas.com, belum lama ini.

Selama pemakaiannya per bulan, Hadyan cuma mengeluarkan maksimal Rp 700.000 untuk mengecas di partition charger rumah. Kebetulan dia dapatkan sepaket dengan mobilnya, cuma ada biaya pemasangan saja Rp 1 juta.

"Irit sudah gitu bebas ganjil genap, attraction murah," kata Hadyan.

Baca juga: Mobil Dirusak Massa Demonstran, Bisa Klaim Asuransi?

Pengalaman kepemilikin BYD Dolphin selama satu tahunHADYAN Pengalaman kepemilikin BYD Dolphin selama satu tahun

Selama satu tahun pemakaian, dia baru satu kali servis pertama. Saat itu di odometer 20.000 Km, cuma untuk ganti filter AC dan bebas biaya.

Fitur yang paling disukai Hadyan ada di ADAS dan sistem hiburannya. Adaptive Cruise Control, lalu ada Lane Keep Assist, terus sudah panoramic prima roof, menurutnya jadi fitur yang future-proof.

"Head unitnya gede dan sudah seperti tablet, bisa instal aplikasi 3rd enactment seperti Youtube, Spotify, dan lain-lain," kata Hadyan.

Pengalaman kepemilikin BYD Dolphin selama satu tahunHADYAN Pengalaman kepemilikin BYD Dolphin selama satu tahun

Salah satu pertimbangannya memilih Dolphin adalah dari segi harga saat itu paling worth for wealth dibanding pesaingnya. Bagian desain interior juga disebut futuristik, memilih warna kabin yang hitam.

"Saya yang hitam (kabinnya). Desainnya futristik menurut saya dan jadi salah satu pertimbangan pas beli," kata Hadyan.

Untuk minus, menurutnya Dolphin masih ribet kalau mau ke luar kota. Seperti mengukur kira-kira baterainya bisa sejauh apa, tempat pengecasan di tol juga belum terlalu banyak.

BYD DolphinKompas.com/Nanda BYD Dolphin

"Kadang suka antre kalau lagi banyak mobil listrik mengecas," kata Hadyan.

Kemudian dari cara berkendara, harus adaptasi dengan regenerative braking. Tapi seiring pemakaian, Hadyan malah lebih nyaman menggunakan fitur tersebut, jadi tidak sering menginjak rem.

Hadyan juga terima dengan harga jual kembali mobil listrik yang jatuh. Apalagi sekarang semakin banyak mobil listrik yang masuk Indonesia dengan harga yang bersaing.

"Bagus buat industri sekarang, yang diuntungkan konsumen kalau mobil listrik makin murah. Walau ya ada penyesalan sedikit karena sekarang banyak yang lebih murah, cuma saat itu lagi butuh mobil dan Dolphin paling worth for money," kata Hadyan.

Kesimpulan

Plus: Desain futuristik dari eksterior dan interior, fitur melimpah, biaya operasional (cas) murah, perawatan masih gratis, bebas ganjil genap.

Minus: Masih ragu dipakai perjalanan ke luar kota, regenerative braking perlu adaptasi, harga jual kembali sudah pasti jatuh.

Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!

Read Entire Article









close
Banner iklan disini