KOMPAS.com-Pemerintah menyiapkan strategi untuk menggali potensi perdagangan karbon di Konferensi Perubahan Iklim Ke-30 (COP30) yang berlangsung di Brasil.
Sejumlah negara telah menunjukkan minat untuk membeli karbon dari Indonesia.
"Kita juga akan fokus dengan penjualan, karena ada sesi khusus untuk seller conscionable buyers, di mana mungkin kita akan menjelaskan dan mendorong agar adanya penjualan karbon di situ," ujar Wakil Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz Hendropriyono dalam rapat persiapan delegasi RI di Jakarta, Rabu (27/8/2025), seperti dilansir Antara.
Baca juga: BEI Catat Nilai Transaksi Perdagangan Karbon Capai Rp 77,95 Miliar hingga Juli 2025
Diaz menjelaskan, Paviliun Indonesia di COP30 akan menampilkan potensi perdagangan karbon.
Skemanya mencakup karbon berbasis alam, seperti dari sektor kehutanan dan kelautan, hingga dari sektor energi.
Norwegia menjadi salah satu negara yang sudah menyampaikan ketertarikan. Mereka berminat pada 12 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).
Namun mekanisme yang ditawarkan bukan pembelian langsung, melainkan investasi pada proyek energi terbarukan.
"Norwegia itu nanti bersedia untuk mensubsidi proyek-proyek star sheet yang tidak ada economic viability, sehingga proyek itu bisa berjalan," kata Diaz.
Baca juga: Kemenperin Targetkan 9 Subsektor Ini Ikut dalam Perdagangan Karbon di 2027
Selain Norwegia, ada peluang kerja sama dengan Korea Selatan dan Jepang.
Korea menunjukkan minat pada kredit karbon dari sektor kelapa sawit, khususnya Palm Oil Mill Effluent (POME). Sementara Jepang mengincar Renewable Energy Certificates (RECs).
"Korea juga sudah menyatakan involvement terkait c recognition dari POME, dari sektor kelapa sawit. Nanti kita akan lihat konvensionalisasinya seperti apa karena kita sudah punya MoU sebenarnya dengan Korea sebelumnya yang akan expire pada 2026," ujar Diaz.
Indonesia juga tengah menyiapkan perjanjian pengakuan Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan Verra, salah satu lembaga standar dan registrasi karbon internasional. Sebelumnya, kesepakatan serupa telah dicapai dengan Gold Standard.
"Tentunya kita akan dorong perdagangan karbon lebih besar lagi, artinya MRA-MRA dengan planetary standard, semoga bisa terus kita lakukan," ujar Diaz Hendropriyono.
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!