Saham Perbankan Merangkak ke Zona Hijau, Saatnya Serok

22 hours ago 1

Jakarta (beritajatim.com) – Pergerakan saham sektor perbankan kembali menunjukkan tren positif di tengah volatilitas pasar pada perdagangan Kamis (28/8/2025). Beberapa emiten perbankan tercatat merangkak ke zona hijau, memicu optimisme capitalist bahwa momentum akumulasi atau bargain connected weakness bisa dimanfaatkan.

Saham-saham perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami kenaikan tipis setelah sempat tertekan pada awal pekan. Bahkan, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga ikut menguat dengan sentimen positif dari kinerja semester I 2025 yang solid.

Analis pasar modal menilai bahwa tren penguatan ini sejalan dengan ekspektasi stabilnya suku bunga acuan Bank Indonesia di level 6,25 persen. Stabilitas suku bunga dinilai memberi ruang bagi sektor perbankan untuk menjaga borderline bunga bersih (net involvement margin), sekaligus mempertahankan kinerja laba bersih.

“Investor kembali melihat sektor perbankan sebagai pilihan defensif, mengingat fundamentalnya kuat. Koreksi yang terjadi beberapa hari lalu justru membuka ruang akumulasi,” ujar Head of IPOT Fund & Bond PT Indo Premier Sekuritas, Dody Mardiansyah.

Di sisi lain, sentimen planetary juga ikut memengaruhi. Pasar saham Asia cenderung menguat setelah The Fed memberi sinyal lebih hati-hati dalam kebijakan moneter, sehingga tekanan dari potensi kenaikan suku bunga lanjutan di Amerika Serikat sedikit mereda.

Meski demikian, capitalist tetap diingatkan untuk berhati-hati karena pasar masih rentan oleh ketidakpastian global, termasuk perlambatan ekonomi Tiongkok dan fluktuasi harga komoditas. Namun, bagi capitalist jangka menengah dan panjang, saham perbankan dinilai masih memiliki prospek cerah seiring dengan pertumbuhan kredit domestik yang diproyeksikan berada di kisaran 9–10 persen pada 2025.

“Kalau dilihat dari sisi valuasi, beberapa saham perbankan masih cukup menarik. Momentum saat ini bisa dimanfaatkan untuk serok secara bertahap, terutama di saham large caps perbankan,” tambah Dedy. [beq]

Read Entire Article









close
Banner iklan disini