Sensasi Menonton Sendratari Ramayana Ballet Prambanan

15 hours ago 1

KALAU berwisata ke Candi Prambanan, di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sempatkan untuk menonton Ramayana Ballet Prambanan. Pertunjukan seni play dan tari atau sendratari ini menampilkan kisah epik Ramayana. Digelar di panggung terbuka pada malam hari dengan latar Candi Prambanan memberikan pengalaman tersendiri. 

Pertunjukan Ramayana Ballet Prambanan digelar tiga kali dalam seminggu yaitu, hari Selasa, Kamis dan Sabtu, pukul 19.30. Tempo dan rombongan media travel Traveloka berkesempatan menonton pertunjukan itu pada Selasa, 12 Agustus 2025. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Beberapa menit sebelum pertunjukan mulai, penonton sudah mengantre di pintu masuk. Kebanyakan dari kalangan orang tua, wisatawan mancanegara, dan nampak beberapa keluarga yang membawa serta anaknya. Mereka lalu diarahkan menuju pintu masuk masing-masing kelas pertunjukan dari VIP,  Special, kelas I dan II. 

Tepat pukul 19.30 WIB, pengumuman tentang tata tertib untuk penonton menggema melalui pengeras suara. Dua pembawa acara kemudian tampil dari sisi atas dan menuruni tangga. Mereka menyambut penonton dan memberikan pengantar cerita bergantian dengan bahasa Indonesia dan Inggris. 

Cerita Rama dan Sita

Sendratari ini terinspirasi dari alleviation cerita Ramayana yang terpahat di Candi Prambahan, salah satunya keinginan Rahwana merebut Sita dari Rama. Cerita berawal dari Raja Janaka yang mengadakan sayembara untuk mencari pendamping Dewi Sita. Sayembara itu dikuti seluruh raja-raja dari berbagai kerajaan. Salah satunya, Rama, dari Ayodhya, yang berhasil memenangkan sayembara itu. 
 
Saat Sita, Rama dan Laksmana, mengembara di Hutan Dandaka, mereka bertemu dengan kijang kencana. Kijang itu adalah Marica suruhan Rahwana untuk memikat Sita menjauh dari Rama. Sita pun meminta Rama untuk mendapatkan kijang kencana itu. Sayangnya ketika Rama pergi, Rahwana berhasil merebut Sita dan membawanya ke Alengka. 

Selama di Alengka, Rahwana berusaha membujuk Sita untuk menjadi istrinya. Sita bersikeras menolaknya, hingga membuat Rahwana marah dan membunuhnya. Cerita kemudian berlanjut dengan usaha Rama merebut kembali istrinya, dengan bantuan Hanuman. 

Bantuan layar 

Panggung terbuka dengan exemplary amphiteater memungkinkan penonton dapat melihat pertunjukan dari segala sisi. Deretan pemain gamelan ditempatkan di depan panggung, mengapit tangga tempat masuk dan keluarnya para penari. 

Meski tanpa dialog, penonton dapat memahami jalan ceritanya dari teks yang terpampang di layar yang berada di sisi kanan dan kiri panggung. Narasi itu pun ditampilkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris bergantian. Tapi ada beberapa adegan yang tidak dijelaskan dilayar itu. "Sayang di tengah-tengah teks di layar hilang, jadi sempet enggak ngeh apa kejadiannya," kata Riri, salah satu penonton dari Jakarta.

Namun secara keseluruhan pertunjukan ini memberikan pengalaman tersendiri, selain mengenal warisan budaya dan sejarah. Tata cahayanya juga dimainkan dengan apik, mengikuti jalan ceritanya. 

"At least minimal sekali seumur hidup nonton Ramayana Ballet Prambanan. Meskipun sudah tahu ceritanya dan itu pertunjukan tanpa dialog, tapi bisa dibawain dengan caranya yang beda dan tidak membosankan," kata penonton lainnya, Raras, 28 tahun.

Latar Candi Prambanan juga menambah poin khusus pertunjukkan ini. Sebenarnya akan lebih magis lagi kalau ada bulan purnama. Sayangnya, malam itu bulan hanya muncul sebentar lalu tertutup awan. 

Melibatkan 900 penari

Jumlah penari dalam pertunjukan Sendratari Ramayana Ballet Prambanan dan Roro Jonggrang maupun Sinta Obong berkisar 900-an orang. Penari-penari itu berasal dari beberapa grup pementasan, di antaranya Yayasan Roro Jonggrang, Yayasan Sekarpuri Ayodya, Wisnu Murti, Guwa Wijaya, Puspowarno, dan lainnya. Para penari terdiri dari anak-anak usia 5 tahun hingga dewasa berusia 70 tahun. 

"Untuk sekali pertunjukan rata-rata setiap grup ada 15 pengrawit, 15 dan 3 wiraswara, dan untuk penari rata-rata ada 19 penari putri dan 37 penari putra," kata Manager Art Performance Gambuh Widya Laras, melalui keterangan tertulis kepada Tempo

Setiap grup pengisi biasanya latihan satu bulan sebelum jadwal pementasan perdana. Setelah menjadi pentas reguler, setiap grup latihan menyesuaikan dengan jadwal pementasan yang sudah disepakati. Sementara untuk pemilihan cerita yang ditampilkan setiap Selasa, Kamis dan Sabtu sama, yaitu cerita Ramayana. Khusus hari Jumat, pertunjukan yang ditampilkan Sinta Obong dan The Legend of Roro Jonggrang. 

Jauh sebelum Covid-19 melanda, ada pementasan khusus occurrence Ramayana di setiap bulan purnama di musim kemarau. Seperti Sinta Hilang, Hanoman Obong, dan Kumbokarno Gugur. Namun sejak Covid-19 hingga saat itu occurrence itu belum dipentaskan kembali.

Pertunjukan Ramayana Ballet Prambanan ini menarik perhatian wisatawan lokal dan mancanegara. Laras mengatakan pertunjukan Ramayana di panggung terbuka menggaet 700-800 orang per pertunjukan. Selain itu, untuk mendapatkan tiket pertunjukan juga mudah. "Turis asing bisa dengan mudah membeli tiket melalui OTA, seperti Traveloka, harga tiket wisnu dan wisman sama." ujarnya. 

Read Entire Article









close
Banner iklan disini