SEBUAH studi gabungan mengungkapkan jerapah memiliki 4 spesies berbeda, setelah sebelumnya hanya diketahui satu spesies. Hewan leher panjang dengan badan bermotif bercak tidak beraturan itu diketahui terancam, baik dari sisi jumlah populasi maupun kebutuhan konservasinya.
“Ini salah satu mamalia besar yang paling terancam di dunia,” kata Stephanie Fennessy dari Giraffe Conservation Foundation (GCF), dikutip dari Earth pada Senin, 25 Agustus 2025.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut laporan ini, satu spesies hidup dalam kondisi yang berbeda-beda karena pengaruh lingkungan, interaksi dengan manusia, dan kebutuhan di alam liar. Ancaman perburuan terus menyusutkan populasi mereka di Afrika. Populasi jerapah tersebar di Tanzania, Kenya, Kongo, Kamerun, Niger, Etiopia, Zimbabwe, Somalia, Chad, Zambia, Mozambik, serta Afrika Selatan.
Dalam situs resmi GCF, jerapah disebut memiliki 4 spesies utama, yaitu masai (Giraffa tippelskirchi), utara (Giraffa camelopardalis), retilukasi (Giraffa reticulata), dan selatan (Giraffa giraffa). Terdapat 45.400 ekor populasi jerapah masai, 5.900 ekor jerapah utara, 15.950 ekor jerapah retikulasi, serta 49.850 ekor jerapah selatan.
Stephanie Fennessy mengatakan klasifikasi baru itu penting, meski saat ini terkendala pendanaan yang nilainya menembus ribuan dolar Amerika Serikat. “Strategi sebenarnya dapat mencocokkan bahaya yang dihadapi masing-masing kelompok,” ucapnya, mengutip Earth.
Sebelumnya, GCF bersama Senckenberg Biodiversity and Climate Research Centre, serta Museum of Zoology di Jerman, telah meneliti 141 sampel jerapah liar pada 2009 hingga 2015. Tim melakukan analisis genetik, jaringan, dan beberapa hal lain hingga akhirnya menyimpulkan terdapat 4 spesies utama.
“Hal ini konsisten dengan waktu perbedaan antara 1,25-2 juta tahun yang lalu di antara keempat kelompok tersebut,” dikutip dari artikel ilmiah Multi-locus Analyses Reveal Four Giraffe Species Instead of One. Tulisan itu terbit di jurnal Current Biology pada 8 September 2016.
Kritik terhadap Artikel Sebelumnya
Sebuah tulisan berjudul How galore taxon of giraffe are there? yang terbit di Current Biology, mengkritik artikel Multi-locus Analyses Reveal Four Giraffe Species Instead of One. Ditulis Bercovitch dan beberapa rekan penulis, artikel sebelumnya disebut mengabaikan information penting seperti morfologi jerapah, wilayah persebaran, ekologi, dan perilaku.
Selain itu, ada information yang tidak konsisten pada DNA mitokondria dan DNA nuklir, berbeda dengan analisis sebelumnya yang menyatakan subspesies jerapah thornicroft bercampur dengan spesies jerapah masai. Padahal studi lain menunjukkan thornicroft membentuk kelompok terpisah.
Pola warna bulu yang disebutkan tidak bisa diandalkan dalam penelitian sebelumnya. Padahal, menurut Bercovitch, warna bulu berkaitan erat dengan gen, seleksi alam, dan pola perkawinan yang jadi dasar pembentukan spesies.
Poin penting lain yang dikritik menyangkut implikasi konservasi. “Kami tidak memahami alasan membagi satu spesies tunggal menjadi 4 spesies memiliki implikasi konservasi yang jelas,” begitu pernyataan Bercovitch dan kawan-kawan.