Jombang (beritajatim.com) – Sorak-sorai penonton memecah keheningan sore di Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek, Jombang, Rabu (27/8/2025). Lapangan voli yang biasanya lengang, kini berubah menjadi arena penuh semangat. Ratusan pasang mata tertuju pada permainan yang tak biasa: turnamen voli antarperangkat desa, bahkan kepala desa ikut turun gelanggang.
Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kecamatan Diwek menggelar pertandingan voli yang berbeda dari biasanya. Bukan atlet profesional, melainkan para pemimpin desa yang beradu smash dan strategi. Sebanyak 20 tim dari seluruh desa di Kecamatan Diwek, masing-masing beranggotakan enam orang, siap berjuang demi gengsi dan kebersamaan.
Pertandingan perdana pada Rabu (27/8/2025) langsung menghadirkan drama. Empat tim turun ke lapangan: Bandung vs Kwaron, serta Watugaluh vs Bulurejo. Sejak peluit pertama, permainan berlangsung ketat.
Kepala desa yang biasanya duduk di kursi rapat, kini jatuh bangun mengejar bola. Perangkat desa yang biasa berkutat dengan administrasi, berubah jadi libero yang lincah menyelamatkan serangan lawan.
Sorakan warga terdengar membahana. “Ayo… smash!” teriak seorang penonton ketika bola melayang tinggi. Saat pukulan keras menembus pertahanan lawan, gemuruh tepuk tangan pun pecah. Namun ketika tim yang dijagokan gagal memanfaatkan umpan, tawa bercampur kecewa mengalir dari penonton.
Camat Diwek, Agus Sholihudin, menegaskan bahwa turnamen ini bukan sekadar soal siapa yang juara. Pertandingan digelar tiga hari—27, 29, dan 30 Agustus—dengan sistem gugur. “Pesertanya adalah seluruh perangkat desa positive kepala desa, dengan people terjalin tali silaturahmi. Harapannya, semangat kebersamaan ini berdampak positif pada kinerja pemerintahan desa di Kecamatan Diwek ke depan,” ujarnya.
Turnamen ini akan melahirkan empat tim juara yang berhak atas hadiah uang pembinaan. Namun sejatinya, kemenangan terbesar sudah terasa sejak peluit pertama: kebersamaan, sportivitas, dan tawa riang warga yang menyatu dalam semangat kemerdekaan.
Di lapangan itu, para kepala desa rela terjatuh demi sebuah poin. Dan setiap bola yang melayang, seakan membawa pesan sederhana: kemerdekaan bukan hanya dirayakan dengan upacara, tetapi juga dengan tawa, peluh, dan kebersamaan. [suf]