Wawancara Raihaanun dan Giulio Parengkuan: Kanibalisme dalam Film Labinak

2 days ago 1

FILM horor Labinak: Mereka Ada di Sini yang diproduseri Anami Films bertemakan teror psikologis dan kanibalisme. Karya sutradara Azhar Kinoi Lubis ini membawa pemeran seperti Raihaanun, Arifin Putra, Giulio Parengkuan, Nayla, Jenny Zhang, Aimee Saras, Chantiq Schagerl, dan Ivanka Suwandi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Labinak sudah tayang sejak 21 Agustus 2025 di bioskop. Film ini tak luput membawa narasi perihal ketimpangan strata sosial dengan nuansa lokal. Najwa (Raihaanun) yang terhimpit ekonomi, mampu dimanipulasi oleh sekte kanibalisme dengan iming-iming hidup lebih layak namun ternyata menjadi calon santapan sekte kanibalisme.

Tempo melakukan sesi wawancara kepada Raihaanun yang memerankan Najwa dan Giulio Parengkuan yang memerankan Jodas di Kantor Tempo, Jakarta Selatan pada Selasa, 29 Juli 2025. Kedua aktor itu menceritakan pengalamannya andil di movie horor bertemakan kanibalisme, proses pembangunan karakternya masing-masing, hingga tantangan bergelut dengan properti makanan yang menjijikkan.

Bagaimana kalian melihat narasi di movie Labinak ini?

Giulio: Ceritanya tentang kanibalisme, jadi judulnya itu kebalikan dari kanibal. Film ini memberitahu bahwa ada sekte di kehidupan masyarakat kelas menengah atas. Mereka punya aturan sendiri dan akhirnya mereka bisa hidup selama-lamanya, dengan syarat mereka makan orang. Hal ini sebenarnya sudah sering terdengar ya misalnya isu seperti ini ada di Hollywood. Jadi kami mengimplementasi hal seperti itu ke dalam film, yang digabungkan dengan lokalitas.

Mengenai karakter kalian masing-masing seperti apa saja perannya?

Raihaanun: Kalau saya berperan sebagai karakter Najwa, yang berprofesi sebagai guru honorer untuk mata pelajaran fisika. Jadi memang agak bertabrakan dengan kejadian-kejadian mistis dan tidak logis. Lalu Najwa punya anak namanya Yanti diperankan oleh Nayla Denny yang menonjol secara akademis. Sementara sekte ini bergerak di akademis, Yayasan Payung Emas, yang merekrut guru-guru yang sekiranya secara ekonomi sulit. Jadi transaksional.

Giulio: Saya memerankan karakter Jodas sebagai tangan kanan kepala sektenya. Jodas itu yang memastikan semuanya berjalan dengan lancar dengan latar belakang psikologi. Jadi dia memerankan manipulasi psikologis.

Lebih kepada psikopat, ya?

Giulio: Semuanya sebenarnya psikopat tapi buat mereka tidak karena mereka punya nilai tertentu. Ini menyoroti peran seseorang yang berkontribusi secara jasa tapi imbalannya kehidupanmu sendiri. Itu yang terjadi ketika dalam kehidupan tak ada kompas moral.

Poster movie Labinak: Mereka Ada di Sini. Foto: Instagram ofisial.

Lalu bagaimana ceritanya kalian diajak sutradara Azhar Kinoi Lubis berperan dalam Labinak?

Giulio: Saya sebelumnya pernah syuting dengan Kinoi dan menyenangkan, dan saat itu peranan saya sebentar sekali. Saya menyadari suka bekerja sama dengan Kinoi karena dinamikanya enak saja. Ketika dapat tawaran kerja di Labinak ini dan menerimanya tentu alasannya utamanya karena Kinoi. Ditambah lagi juga dalam sisi naskah itu ada pendekatan psikologis secara karakter. Saya belum pernah mainkan sebelumnya.

Raihaanun: Tapi memang Kinoi dari dulu sudah suka banget sama Giulio, suka sama karakteristiknya.Tapi memang pemeran lain juga punya karakteristik yang terlihat lembut tapi manipulatif.

Itu menjadi ketertarikan tersendiri dalam movie ini nantinya?

Giulio: Menurut saya menarik misalnya dalam keseharian kita juga kadang-kadang suka sedikit menilai seseorang dari luarnya saja. Misal mukanya seram padahal hatinya itu manis begitu pula sebaliknya. Makanya akhirnya movie ini membahas tentang insting seperti merasakan ada yang tak benar, jadi dengarkan saja kata hatimu.

Kalau ketertarikan Raihaanun dengan movie ini?

Raihaanun: Memang karena saya tertarik dengan temanya setelah baca ceritanya tentang kanibalisme itu terbilang jarang di horor Indonesia. Saya juga sering kerja sama dengan Kinoi.

Mengenai proses pendalaman karakternya masing-masing itu seperti apa perjalanannya?

Raihaanun: Karakter Najwa itu tidak neko-neko, sangat relevan juga dengan presumption ekonomi kelas bawah dan mudah diperdaya. Mungkin lebih kepada karakteristiknya itu yang agak menantang guru fisika tapi harus berhadapan dengan hal gaib.

Ada referensi movie atau aktor lain tidak saat membayangkan hendak memerankan Jodas?

Giulio: Tak ada. Saya cuma membuka kemungkinan-kemungkinan yang dilakukan karakter ini saja. Misalnya dia tak tiba-tiba jadi orang kanibal, dia memiliki kebenaran itu sendiri jadi saya menempatkan sisi kemanusiaan dari karakter yang terdistorsi juga dari realita.

Seperti apa proses syuting  di lapangan mengingat jarang horor Indonesia mengangkat tema kanibalisme?

Raihaanun: Ada bentuk ritualistiknya di balik strata sosial itu dan terlihat secara ocular jarak strata sosial ini. Kemudian menyamakan dengan rentang waktu yang ada di skrip dengan saat syuting. Nanti juga kelihatan di beberapa adegannya bahwa secara tidak langsung karakter Lucius (Arifin Putra) ini memiliki rentang waktu secara ocular yang sudah seberapa jauh nanti ada dikasih tunjuk.

Jadi rentang waktunya tak hanya ada dalam naskah dan sulit sampai ke penonton ya?

Raihaanun: Iya ketika kami dapat naskahnya itu bercerita tentang rentang waktu yang panjang tapi semuanya karakternya itu jelas. Nanti pas nonton itu mungkin akan terjawab kok semuanya. Jadi bukan dilempar terus gak diselesaikan, sepanjang jalan itu diceritakan. Karena itu juga menjadi perhatian movie Indonesia juga yang terkadang dilempar tapi tak diselesaikan. Hal begitu buat kami sebagai aktor juga sesuatu hal yang mengganggu. 

Mengenai properti, organ-organ yang dimakan itu apa saja bahannya?

Giulio: Semacam agar-agar atau gelatin, pokoknya menjijikkan. Tapi kan ada kebutuhan makan itu jadi ditahankan saja. Sebenarnya dari trailer kami sudah cukup spoiler banyak.

Berarti ketika syuting makan properti itu perasaan jijiknya bagaimana?

Giulio: Jijik banget, kan saya manusia berakhlak. Memang agak enek, tapi pada saat kami makannya sudah seperti kelaparan begitu. Pertama kami makannya prostetik karena itu yang sangat terlihat nyata, yang kedua nanti kayak digabungin shotnya. Cuma ampun, saya ingat sekali adegan itu pas hari terakhir syuting.

Raihaanun: Terus cara makannya juga spesifik, ada yang memang menikmati, ada yang karena dia stres berat. Jadi banyak cara menikmatinya.

Giulio: Kami sempat promo buat konten terus makan propertinya itu saya tak bisa makan. Jadi makan kuping lah, apalah, tak sanggup saya.

Rasanya seperti apa?

Giulio: Hambar, ada manisnya juga tapi sugesti ya melihat makanan yang udah diuwel-uwel di lantai. Tapi itu membuktikan seberapa baiknya pekerjaan Art Department untuk bisa membuat hal senyata itu. 

Biodata: 

Raihaanun

Tanggal Lahir: Jakarta, 7 Juni 1988

Debut Film: Badai Pasti Berlalu

Penghargaan:

- Piala Citra untuk Pemeran Pembantu Wanita Terbaik Festival Film Indonesia, Salawaku (2016)

- Indonesia Movie Awards untuk Aktris Terbaik, Salawaku (2016)

- Piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia, 27 Steps of May (2019)

- Piala Maya untuk Aktris Terbaik, 27 Steps of May (2019)

Giulio Parengkuan

Tanggal Lahir: Jakarta, 20 Juli 1999

Debut Film : Pertaruhan (2017)

Read Entire Article









close
Banner iklan disini