Bintang Jasa atau Sekadar Balas Jasa? Mempertanyakan Makna Tanda Kehormatan Negara

2 days ago 1

Oleh: Achmad Fadillah 
Pemerhati dan Peneliti Kebijakan Publik

Di tengah kemegahan Istana Negara pada 25 Agustus 2025 lalu, 141 tokoh bangsa menerima tanda kehormatan dari Presiden Prabowo Subianto. 

Namun, di balik kilau medali dan jabat tangan seremonial, tersembunyi kegelisahan publik yang mendalam. 

Alih-alih menjadi perayaan atas prestasi, peristiwa ini justru memicu perdebatan sengit tentang esensi penghargaan negara. 

Pertanyaan yang menggantung di benak banyak orang bukanlah "siapa" yang menerima, melainkan "mengapa"—sebuah pertanyaan yang menguji batas antara pengakuan tulus atas jasa dan dugaan transaksionalisme politik.

Penganugerahan ini, terutama Bintang Mahaputera, berisiko menjadi babak baru dalam devaluasi simbol-simbol kehormatan kita. 

Ketika tanda jasa yang semestinya menjadi milik pahlawan sejati disematkan pada figur-figur yang lekat dengan kontroversi dan kedekatan idiosyncratic dengan kekuasaan, kita patut cemas. 

Jangan sampai kehormatan tertinggi bangsa ini kehilangan cahayanya, berubah makna dari bintang jasa menjadi sekadar tanda mata.

Baca juga: Prabowo Beri Tanda Kehormatan ke-141 Tokoh Saat Rakyat Demo di DPR, Rocky Gerung: Kontroversial

Standar Emas yang Terlupakan

Untuk memahami betapa krusialnya persoalan ini, mari kita pejamkan mata sejenak dan kembali pada standar emas yang diletakkan oleh para pendahulu kita. 

Bintang Mahaputera, menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2009, dianugerahkan atas "jasa luar biasa". 

Frasa ini bukanlah sekadar jargon hukum, melainkan sebuah tolok ukur sakral yang lahir dari pengorbanan. 

Bayangkan Jenderal Soedirman, memimpin perang gerilya selama tujuh bulan dengan tubuh yang digerogoti penyakit, ditandu keluar-masuk hutan demi tegaknya republik. Itulah "jasa luar biasa".

Ingatlah Mohammad Natsir, yang dengan "Mosi Integral"-nya berhasil merajut kembali serpihan-serpihan Republik Indonesia Serikat menjadi NKRI yang utuh dan berdaulat. 

Itulah "jasa luar biasa". 

Kenanglah Ki Hajar Dewantara, yang mendedikasikan hidupnya untuk Taman Siswa, menyalakan pelita pendidikan bagi kaum pribumi yang hidup dalam kegelapan kolonialisme. 

Tribuners adalah level jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini