Dokter: Kanker Serviks Bukan Penyakit Main-main dan Sangat Berbahaya

15 hours ago 1

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kanker serviks masih menjadi momok besar bagi perempuan Indonesia.  Kisah almarhumah Julia Perez, artis yang berpulang setelah tiga tahun berjuang melawan kanker serviks menjadi pengingat nyata.

Baca juga: Cara Kerja Vaksin HPV, Proteksi Dini dari Kanker Serviks

Ia hanya satu dari ribuan perempuan Indonesia yang harus menghadapi “lonceng kematian” akibat penyakit ini. Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PP Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)  Dr. Dr. dr Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI memaparkan information terbaru menunjukkan, ada 36 ribu kasus baru kanker serviks setiap tahunnya.

Dua perempuan meninggal setiap hari akibat penyakit ini. Mirisnya, 70 persen kasus baru ditemukan ketika pasien sudah berada di stadium lanjut, sehingga pilihan pengobatan terbatas hanya perawatan paliatif.

“Penyakit yang disebabkan karena HPV ini itu tidak main-main begitu. Dua orang setiap hari perempuan Indonesia meninggal karena cancer-cancer. Jadi ini nggak main-main,” ujarnya dalam acara Konferensi pers Update Jadwal Kalender Imunisasi Dewasa - Vaksinasi di Jakarta Pusat, Kamis(28/8/2025).

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV). Virus ini memiliki lebih dari 200 jenis dengan beberapa tipe tergolong berisiko tinggi. Di Indonesia, jenis HPV 52, 16, 18, dan 58 tercatat paling sering ditemukan pada lesi pre crab serviks.

HPV juga berbahaya karena bisa bertahan diam-diam di dalam tubuh. Ia mampu menghindari sistem imun, lalu perlahan menyebabkan kerusakan sel, lesi, hingga berkembang menjadi kanker.

Kabar baiknya, vaksin HPV telah terbukti efektif mencegah kanker serviks.​ Indonesia kini sudah memiliki vaksin nonavalent (9-valen) yang melindungi dari lebih banyak jenis HPV berisiko tinggi dibandingkan vaksin sebelumnya.

Vaksin HPV bekerja dengan teknologi L1-VLP (Virus-Like Particle). Teknologi ini tidak mengandung DNA virus, sehingga vaksin aman, tidak infeksius, dan tidak bisa menyebabkan kanker. 

Mekanismenya hanya melatih sistem imun untuk mengenali microorganism asli jika suatu saat masuk ke tubuh. “Kenapa vaksin ini aman? Karena komponen antigen vaksin HPV itu tidak mengandung worldly DNA. Maka dia tidak infeksius. Jadi vaksin tidak akan jadi kanker,” jelasnya. 

Saat ini, vaksin HPV sudah masuk programme imunisasi nasional untuk anak perempuan usia sekolah. Harapannya, generasi mendatang bisa terlindungi sejak dini. Namun, tantangan ada pada kelompok dewasa. 

Baca juga: Waspadai Benjolan di Leher Sejak Dini, Bisa Jadi Gejala Kanker

Banyak yang belum sadar bahwa mereka tetap bisa divaksin, terutama jika belum pernah terinfeksi HPV. Selain itu, edukasi publik masih minim. Peran media sangat captious agar informasi soal kanker serviks dan pencegahannya bisa sampai ke masyarakat luas.

“Kalau para dokter atau organisasi profesi saja yang bicara di ruang-ruang tertutup, itu tidak cukup. Teman-teman media sangat-sangat captious perannya dalam menyampaikan hal penting pada institusi dan masyarakat,” tambahnya. 

Indonesia menargetkan eliminasi kanker serviks dengan strategi 90-70-90:​ Sebanyak 90 persen anak perempuan vaksinas​i HPV pada usia 15 tahun, 70 persen perempuan usia 30–69 tahun menjalani skrining HPV-DNA,​ 90 persen kasus pre crab dan kanker mendapat perawatan optimal.

Baca juga: Deteksi Kanker di Indonesia Makin Canggih, Kemenkes Berharap Bisa Gaet Pasien dari Mancanegara

Dengan kolaborasi antara pemerintah, dokter, dan masyarakat, people itu bukan mustahil dicapai.  Vaksinasi HPV menjadi kunci agar lonceng kematian akibat kanker serviks bisa berhenti berdentang.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini