Hewan Pengerat, Banjir, dan Ancaman Leptospirosis di Musim Hujan

23 hours ago 1

Tri Wahono

Peneliti Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis BRIN

Mahasiswa Doktor Biologi UGM

TRIBUNNEWS.COM - Setiap kali musim hujan tiba, sebagian wilayah Indonesia hampir selalu menghadapi banjir. Kita sering fokus pada kerusakan rumah, jalan, atau infrastruktur yang lumpuh. Namun ada satu ancaman lain yang sering terabaikan: penyakit leptospirosis, yang dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus.

Tikus: Reservoir Utama Leptospirosis

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira. Tikus menjadi reservoir utama karena bakteri ini hidup di ginjalnya dan dikeluarkan lewat urine. Tikus dapat terus membawa bakteri tersebut sepanjang hidup tanpa menunjukkan gejala sakit. Kondisi ini membuat tikus menjadi “pembawa sehat” yang berbahaya.

Air kencing tikus yang bercampur dengan aerial hujan atau banjir akan mencemari tanah, selokan, dan genangan air. Manusia yang kontak dengan aerial tersebut bisa terinfeksi hanya melalui luka kecil atau selaput lendir. Inilah sebabnya setiap musim banjir, risiko leptospirosis meningkat tajam.

Di Indonesia, dua jenis tikus yang paling sering ditemukan di pemukiman adalah Rattus norvegicus (tikus got) dan Rattus tanezumi (tikus rumah). Tikus got hidup di selokan, pasar, dan saluran drainase, sementara tikus rumah lebih dekat dengan aktivitas manusia di dapur, gudang, atau warung. Keduanya sama-sama berpotensi menjadi reservoir Leptospira.

Mengapa Tikus Sulit Dikendalikan?

Ada beberapa alasan mengapa tikus begitu berbahaya sebagai reservoir leptospirosis:

Populasi tinggi dan cepat berkembang biak. Seekor tikus betina bisa melahirkan hingga 10 kali dalam setahun, dengan jumlah anak 5–10 ekor setiap kali melahirkan. Dalam waktu singkat, populasinya bisa meledak.

Sangat adaptif. Tikus mampu bertahan di lingkungan kotor maupun bersih, dari pasar tradisional hingga gedung perkantoran.

Omnivora. Mereka bisa memakan hampir apa saja, mulai dari sisa makanan manusia hingga sampah organik.

Dekat dengan manusia. Tikus hidup mengikuti manusia, memanfaatkan sampah, makanan, dan infrastruktur perkotaan. Kedekatan tikus dengan kehidupan manusia membuat risiko leptospirosis semakin nyata, terutama di kawasan padat penduduk dengan sanitasi yang buruk.

Mengapa Leptospirosis Berbahaya?

Tribuners adalah level jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini