TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang tua menunda imunisasi anak hanya karena si kecil batuk pilek atau sedikit demam. Padahal, kondisi ringan itu bukan alasan menunda imunisasi.
Baca juga: Anak Harus Tiga Kali Suntik Imunisasi Campak Rubella, Ini Penjelasan Dokter Anak
Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof Dr dr Hartono Gunardi, SpA, Subs TKPS(K) menegaskan, hanya anak dengan kondisi daya tahan tubuh yang benar-benar rendah, contohnya saat sedang menjalani pengobatan kortikosteroid dosis tinggi, penderita lupus dengan obat imunosupresif, leukemia, gagal jantung, atau anemia berat yang sebaiknya ditunda dulu vaksinasinya.
“Sering sekali menjadi alasan anak tidak diimunisasi. Pertama pilek. Anak batuk, pilek ringan, tanpa demam ini boleh diimunisasi. Anak badannya hangat sedikit, bukan demam tinggi. Boleh diimunisasi,”jelasnya pada diskusi media virtual, Rabu (27/8/2025).
Baca juga: Ada Penolakan Imunisasi saat Sumenep Jawa Timur Dilanda KLB Campak, Ini Langkah Pemerintah
Dokter Hartono juga menjelaskan efektivitas vaksin campak rubella juga jauh di atas rata-rata vaksin lain. Satu dosis vaksin memberi perlindungan hingga 85 persen, sementara dua dosis mencapai 95–97 persen. Angka ini bahkan lebih tinggi daripada perlindungan vaksin COVID-19.
“Kalau anak hanya mendapat satu dosis, antibodinya akan menurun seiring waktu. Dengan dua atau tiga dosis, perlindungan lebih tinggi dan lebih lama,” tambahnya.
Orang tua juga tidak perlu khawatir soal jadwal vaksin yang berdekatan. Vaksin MR atau vaksin gabungan yang melindungi dari penyakit campak (measles) dan rubella (campak Jerman) juga aman diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti polio dan pentavalen (DTaP, Hepatitis B, Hib).
“Tidak ada vaksin yang hangus. Kalau ada yang kurang, bisa dilengkapi tanpa mengulang dari awal,” tegasnya.
Baca juga: Grup WA Ibu Pandai, Cara Kemenkes Lawan Hoaks Imunisasi
Imunisasi adalah investasi kesehatan anak. Dengan jadwal lengkap, anak tidak hanya terlindungi dari campak. Tapi juga dari dampak jangka panjang seperti infeksi kronis yang bisa mengganggu tumbuh kembang.