Produksi Mobil Konvensional Turun, Kemenperin Siapkan Arah Baru Industri Komponen Kendaraan 

1 day ago 1

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri otomotif tengah mengalami perubahan signifikan seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik di Indonesia. 

Penjualan mobil pada tahun 2024 mencapai 865.723 portion secara wholesales, turun 13,9 persen dari tahun sebelumnya. Sekitar 5 persen dari full measurement merupakan penjualan Battery Electric Vehicle (BEV).

Mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) adalah jenis kendaraan yang ditenagai sepenuhnya oleh centrifugal listrik yang menggunakan energi dari baterai yang dapat diisi ulang.

Baca juga: Kemenperin Ultimatum Produsen Mobil Listrik di 2026 Penuhi TKDN 40 Persen

Dampak transisi ini juga terasa pada sektor industri komponen kendaraan berbasis mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine/ICE) yang produksinya mulai menurun.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi tantangan tersebut.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Pertahanan (IMATAP) Kemenperin Mahardi Tunggul Wicaksono mengatakan, perubahan ini memang tidak bisa dihindari.

"Jadi memang harus diakui kalau yang terkait dengan kendaraan ICE komponen pembentuknya itu bisa sampai puluhan ribu komponen. Sementara kalau BEV itu hanya ribuan saja, sehingga kondisinya akan terdampak kepada industri komponen nasional, karena kebutuhannya akan terkurangi," tutur Tunggul dalam diskusi Polemik Insentif BEV Impor di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (25/8/2025).

Peralihan menuju kendaraan listrik otomatis membuat rantai pasok industri komponen mesin konvensional berkurang drastis.

Hal tersebut berpotensi menekan keberlangsungan usaha para pelaku industri komponen nasional yang selama ini menopang produksi kendaraan berbahan bakar fosil.

Untuk itu, pemerintah melalui Kemenperin terus berupaya mendorong diversifikasi industri. Salah satu langkah yang diambil adalah membuka peluang agar produsen komponen otomotif bisa masuk ke sektor lain yang juga membutuhkan teknologi manufaktur presisi.

"Kami sudah beberapa kali koordinasikan dengan asosiasi Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM) bahwasannya kami mengarahkan mereka untuk mulai switching dari pemenuhan untuk kendaraan bermotor untuk mulai mengembangkan komponen-komponen ke kebutuhan komponen industri aviasi ataupun komponen industri maritim," ungkap Tunggul.

Upaya ini menunjukkan bahwa Kemenperin tidak hanya memikirkan keberlanjutan industri otomotif, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan industri komponen nasional secara lebih luas.

Dengan membuka jalur transisi ke sektor aviasi dan maritim, pelaku industri komponen diharapkan bisa menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus memperluas pasar.

Lebih lanjut, Tunggul optimistis bahwa industri komponen otomotif nasional memiliki kapasitas dan teknologi yang memadai untuk melakukan transformasi ini."Kita tahu semua bermula dari industri kendaraan bermotor, mereka sudah ada teknologinya dan ketika mereka mau mengembangkan ke komponen industri aviasi dan maritim yang pasti mereka tidak akan terlalu banyak terpengaruh dan switchingnya akan lebih mudah," jelasnya.

Dengan pengalaman panjang dan infrastruktur industri yang sudah ada, para produsen  komponen kendaraan ICE dipandang mampu melakukan penyesuaian tanpa hambatan besar.

Langkah ini juga sejalan dengan strategi pemerintah dalam memperkuat daya saing industri nasional sekaligus menjaga keberlanjutan lapangan kerja di tengah disrupsi teknologi kendaraan listrik.
 

Read Entire Article









close
Banner iklan disini