TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - BPOM menemukan sarana peredaran produk sekretom ilegal di wilayah Magelang, Jawa Tengah pada 25 Juli 2025.
Sarana ini dikamuflasekan dengan praktik dokter hewan.
Pelaku yang seorang dokter hewan ini terancam hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta.
Baca juga: BPOM: Hati-hati Konsumsi Suplemen yang Mengandung Glutathione Berlebihan
Temuan ini berasal dari laporan masyarakat bahwa ada dugaan praktik pengobatan ilegal oleh dokter hewan yang dilakukan terhadap pasien manusia.
Praktik pengobatan ini menggunakan produk sekretom ilegal yang disuntikkan secara intra muscullar seperti pada bagian lengan.
Sarana ilegal tersebut berada di tengah pemukiman padat penduduk yaitu Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Jawa Tengah.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengatakan, pasien produk sekretom ilegal tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Ada yang membeli produk sekretom untuk melanjutkan terapinya dengan bantuan tenaga kesehatan terdekat.
"Juga pasien dari Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau wilayah lain di luar Pulau Jawa, termasuk dari luar negeri, melakukan pengobatan langsung di sarana tersebut,” terang dia saat memberikan penjelasan temuan ini di Kantor BPOM, Rabu (27/8/2025).
Produk sekretom merupakan salah satu produk biologi yang merupakan turunan dari sel punca/stem cell.
Sekretom didefinisikan sebagai keseluruhan bahan yang dilepaskan oleh sel punca, mencakup mikrovesikel, eksosom, protein, sitokin, zat mirip hormon (hormone-like substances), dan zat imunomodulator
Modus Pelaku
Pemilik sarana berinisial YHF (56 tahun) yang berprofesi sebagai dokter hewan tidak memiliki kewenangan untuk memberikan terapi/pengobatan kepada pasien manusia.
Produk sekretom yang digunakan sebagai terapi bagi pasien dibuat sendiri oleh dokter hewan tersebut dan belum memiliki nomor izin edar (NIE) BPOM.
Produksi produk sekretom ilegal diduga dilakukan menggunakan fasilitas laboratorium di sebuah universitas di Yogyakarta.
Yang bersangkutan juga merupakan staf pengajar dan peneliti di universitas tersebut.